Klasifikasi Ujian Online dan Aplikasi Edubox

Bingung dengan apa itu ujian online? Klasifikasi berikut ini akan membuat Anda lebih paham tentang ujian online itu sendiri.

Ujian.

Dahulu, semua ujian adalah ujian luar jaringan (luring), alias offline. Kini sudah ada ujian dalam jaringan (daring), yang lebih dikenal dengan ujian online.

Ujian Offline

Dengan adanya istilah ujian online, dapat kita klasifikan dan simpulkan bahwa ujian yang tidak melalui jaringan sama sekali, adalah termasuk ujian offline.

Kelemahan Ujian Offline

Berikut ini adalah beberapa kelemahan ujian offline. Di antaranya adalah memboroskan kertas, ujian tersebut juga membutuhkan proses yang banyak (mulai dari membuat soal, mengetik soal, membuat kunci jawaban, memeriksa jawaban, hingga mengumumkan/membagikan hasilnya kepada para siswa), dan juga menghabiskan waktu yang banyak sekali.

Ujian Online.

Ada dua macam ujian online. Ada yang full online, ada pula yang separuh (semi) online.

  • Full online. Pelaksanaan ujian sepenuhnya dilaksanakan secara online. Mulai dari mengadakan koneksi dengan server penyedia ujian, hingga pengumpulan jawaban oleh para siswa. Dalam pelaksanaannya, server ujian harus mampu melayani seluruh peserta ujian terus-menerus tanpa gangguan “gak bisa konek” sedikit pun.
  • Semi online. Namanya separuh online berarti tetap membutuhkan internet ya. Mekanisme yang digunakan adalah mekanisme intranet yang ditambahkan dengan komputer server berkapasitas kecil. Tipe ini bisa digunakan di kelas, maupun di laboratorium komputer (labkom). Edubox adalah terobosan baru ujian berbasis komputer. Ada dua tipe Edubox, yaitu Smart Router dan Mini Server.
    • Smart Router. Adalah produk Edubox untuk di dalam kelas.
    • Mini Server. Adalah produk Edubox untuk di labkom.

perangkat ujian online

Berikut ini adalah beberapa perangkat yang digunakan dalam pelaksanaan ujian daring.

  • Hardware+Mikrotik+Edubox
  • Jaringan Wi-Fi + LAN (Local Area Network)
  • Software/Aplikasi Edubox. Berikut ini adalah cara penggunaan aplikasi edubox. Ujian diketik di aplikasi Microsoft (ms) Word. Selanjutnya adalah melakukan export/upload ke aplikasi edubox. Selain dengan export/upload, bisa pula dilakukan copy lalu paste.

aplikasi edubox

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Aplikasi Edubox mudah sekali digunakan. Karena para guru atau tim administrasi sekolah hanya perlu menggunakan aplikasi edubox dan Microsoft Word.

Menguji Kesiapan UNBK



Berbicara mengenai test, ada beberapa jenis test yang harus dilakukan sebagai persiapan guna memastikan kelancaran ujian berbasis komputer (computer-based test):

  • Test perangkat (device) yang akan digunakan oleh siswa; apakah device tersebut benar bisa mengakses dan menggunakan aplikasi edubox. barangkali ada kegagalan akses oleh device milik siswa yang disebabkan oleh sistem operasi Windows, atau aplikasi penunjangnya kurang update.
  • Test jumlah user. Misal jumlah user yang akan menggunakan edubox secara bersamaan, maka harus disimulasikan sebelum hari-h ujian apakah aplikasi edubox mampu melayani keseluruhan peserta tersebut secara bersamaan. Apabila sekali pelaksanaan ujian melibatkan 30 siswa, maka 30 siswa tersebut harus mencoba secara bersama-sama hingga berhasil. Bila kapasitas edubox dan jaringannya hanya 20 siswa, sementara peserta ujian ada 30 siswa, maka pasti ada siswa yang tidak terlayani dengan baik.
  • Test kemampuan loading. Test ini maksudnya mengukur seberapa cepat loading bisa dilakukan oleh device (laptop/smartphone/tablet) milik client. test ini bisa dilakukan bersamaan dengan. test jumlah user.
  • Test jaringan. Yang diperiksa adalah kualitas, kecepatan, dan kestabilan pengiriman dan penerimaan data. Jaringan dengan kabel LAN tentu lebih stabil daripada jaringan dengan wireless (tanpa kabel). Jaringan dengan klien/user lebih sedikit tentu pengirman datanya akan lebih cepat. Misalnya sekali ujian dengan 5 siswa, tentu kecepatannya akan berbeda dengan ujian bersama 30 siswa sekaligus.

Demikian penting melaksanakan beberapa jenis test di atas. Sehingga sebaiknya siswa tidak langsung hadir ke ujian tanpa melalui test-test tersebut lebih dahulu.



aplikasi ujian online berbasis android

Artikel kali ini akan membahas sebuah aplikasi ujian online berbasis android yang dapat digunakan oleh sekolah guna melaksanakan ujian secara daring (dalam jaringan).

Sebagaimana kita ketahui dan rasakan bersama, kini android dari Google dan iOS dari Apple banyak sekali membantu kehidupan kita sehari-hari. Tidak kurang dari belasan mobile application (biasa disingkat mobile app) diinstal di HP kita.

Mulai dari aplikasi chatting (seperti whatsapp), email, media social (instagram, facebook, twitter), pesan tiket (traveloka, tiket.com), e-commerce (tokopedia, bukalapak, shopee) dan banyak lagi jenis-jenis lainnya.

Demikian pula untuk profesi-profesi tertentu seperti guru dan murid. Di saat ada aplikasi ujian sekolah berbasis komputer, maka versi yang sama juga dikembangkan untuk mobile app.

Terima kasih kepada Pinisi, sebuah start-up di Kota Bandung yang mendedikasikan waktu, perhatian, pikiran, dan sumber daya lainnya untuk mempercepat sekaligus mempermudah aktifitas-aktifitas guru dan murid. Khususnya terkait pelaksanaan ujian.

Dengan aplikasi ujian online berbasis android ini, maka para siswa dapat mengerjakan ujian dengan mudah di smartphone masing-masing. Hanya dengan menggunakan mobile browser, siswa dapat membaca dan menjawab soal secara langsung di sana. Baik pertanyaan-pertanyaan pilihan ganda, maupun essay.

Pinisi juga peduli dengan pengalaman pengguna (user experience; UX) yang lebih spesifik, yaitu siswa dan guru. Telah disebutkan di atas bagaimana siswa dengan mudahnya mengerjakan soal. Sementara itu, para guru pun tidak akan kesulitan dalam membuat dan mengunggah (upload) soal.

Karena guru akan membuat soal di file Microsoft Word, sesuai dengan cetakan (template) yang disediakan oleh Pinisi, lalu mengunggahnya ke dalam sistem Edubox.

Nah, Edubox. Ini dia aplikasi ujian online berbasis android yang telah disebutkan berkali-kali semenjak awal artikel ini.

Edubox sesungguhnya bukan perangkat lunak (software) saja, melainkan juga terintegrasi ke dalam suatu perangkat keras (hardware).

Berikut adalah beberapa keunggulan Edubox:

  • Hardware dan WiFi (wireless fidelity) yang kompatibel untuk satu kelas (35 siswa)
  • Dapat melaksanakan latihan UNBK kapan saja
  • Tidak memerlukan koneksi internet saat ujian
  • Alat yang simple dan ringkas
  • Manajemen ujian via komputasi awan (cloud computing)

Dapat Melaksanakan Latihan UNBK Kapan Saja

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) menggunakan jaringan komputer jenis tertentu. Lebih lanjut, konfigurasinya tidak memungkinkan digunakan oleh sekolah untuk kebutuhan pengajaran sehari-hari maupun tatkala ujian.

Bisa dikatakan, perangkat-perangkat UNBK hanya sekali digunakan setiap tahunnya. Tidak terkecuali dengan Laboratorium UNBK. Yang mana, beberapa sekolah memang sudah memiliki laboratorium khusus UNBK tersebut.

Namun demikian, baik laboratorium UNBK, atau laboratorium komputer yang biasa, dapat menerima manfaat lebih dari keberadaan Edubox. Terutama melalui Edubox Mini Server.

Dengan sistem aplikasi yang persis sama dengan “saudara”-nya, yaitu Edubox Smart Router. Namun konfigurasi dan peruntukan jaringan yang berbeda.

Sebagai Mini Server, Edubox berperan sebagai komputer peladen (computing server) yang melayani dan meladeni setiap unit komputer yang menjadi klien di dalam ruang lab komputer atau lab UNBK.

Tidak Memerlukan Koneksi Internet Saat Ujian

Pada saat ujian sedang berlangsung, baik siswa maupun guru tidak membutuhkan internet. Para siswa, melalui smartphone, tablet, atau laptop masing-masing sudah terkoneksi dengan Edubox yang dikelola oleh sang guru. Koneksi jaringan komputer di antara mereka semua sudah terwujud dalam sifat intranet.

Analog dengan internet, namun dalam lingkup terbatas saja. Yakni guru selaku pemberi ujian (melalui Edubox) dan gawai-gawai (devices) yang digunakan oleh para siswa (laptop/tablet/smartphone).

Internet hanya dibutuhkan sebelum ujian dilaksanakan dan setelah ujian selesai dilaksanakan saja. Sebelum ujian dilaksanakan: guna mengunduh (download) soal-soal dari peladen awan (cloud server) menuju Edubox. Pasca ujian: untuk mengunggah jawaban-jawaban masing-masing siswa dari Edubox menuju peladen awan.

Manajemen ujian via komputasi awan

Sekolah maupun guru, tidak perlu repot lagi menyediakan komputer peladen (computing server) sebagai komputer pusat sekaligus pengelola berbagai konten ujian maupun data-data terkait. Sebab, Pinisi sudah menyediakan layanan komputasi awan yang akan memudahkan manajemen soal-soal dan hasil-hasil ujian yang telah dan akan dilaksanakan oleh pihak sekolah.

Edubox, aplikasi ujian sekolah berbasis komputer

Artikel kali ini akan membahas sebuah aplikasi ujian sekolah berbasis komputer yang dapat digunakan oleh sekolah guna melaksanakan ujian secara daring (dalam jaringan).

Terima kasih kepada Pinisi, sebuah start-up di Kota Bandung yang mendedikasikan waktu, perhatian, pikiran, dan sumber daya lainnya untuk mempercepat sekaligus mempermudah aktifitas-aktifitas guru dan murid. Khususnya terkait pelaksanaan ujian.

Dengan aplikasi ujian sekolah berbasis komputer ini, maka para siswa dapat mengerjakan ujian dengan mudah di smartphone masing-masing. Hanya dengan menggunakan mobile browser, siswa dapat membaca dan menjawab soal secara langsung di sana. Baik pertanyaan-pertanyaan pilihan ganda, maupun essay.

Pinisi juga peduli dengan pengalaman pengguna (user experience; UX) yang lebih spesifik, yaitu siswa dan guru. Telah disebutkan di atas bagaimana siswa dengan mudahnya mengerjakan soal. Sementara itu, para guru pun tidak akan kesulitan dalam membuat dan mengunggah (upload) soal.

Karena guru akan membuat soal di file Microsoft Word, sesuai dengan cetakan (template) yang disediakan oleh Pinisi, lalu mengunggahnya ke dalam sistem Edubox.

Nah, Edubox. Ini dia aplikasi ujian sekolah berbasis komputer yang telah disebutkan berkali-kali semenjak awal artikel ini.

Edubox sesungguhnya bukan perangkat lunak (software) saja, melainkan juga terintegrasi ke dalam suatu perangkat keras (hardware).

Berikut adalah beberapa keunggulan Edubox:

  • Hardware dan WiFi (wireless fidelity) yang kompatibel untuk satu kelas (35 siswa)
  • Dapat melaksanakan latihan UNBK kapan saja
  • Tidak memerlukan koneksi internet saat ujian
  • Alat yang simple dan ringkas
  • Manajemen ujian via komputasi awan (cloud computing)

Dapat Melaksanakan Latihan UNBK Kapan Saja

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) menggunakan jaringan komputer jenis tertentu. Lebih lanjut, konfigurasinya tidak memungkinkan digunakan oleh sekolah untuk kebutuhan pengajaran sehari-hari maupun tatkala ujian.

Bisa dikatakan, perangkat-perangkat UNBK hanya sekali digunakan setiap tahunnya. Tidak terkecuali dengan Laboratorium UNBK. Yang mana, beberapa sekolah memang sudah memiliki laboratorium khusus UNBK tersebut.

Namun demikian, baik laboratorium UNBK, atau laboratorium komputer yang biasa, dapat menerima manfaat lebih dari keberadaan Edubox. Terutama melalui Edubox Mini Server.

Dengan sistem aplikasi yang persis sama dengan “saudara”-nya, yaitu Edubox Smart Router. Namun konfigurasi dan peruntukan jaringan yang berbeda.

Sebagai Mini Server, Edubox berperan sebagai komputer peladen (computing server) yang melayani dan meladeni setiap unit komputer yang menjadi klien di dalam ruang lab komputer atau lab UNBK.

Tidak Memerlukan Koneksi Internet Saat Ujian

Pada saat ujian sedang berlangsung, baik siswa maupun guru tidak membutuhkan internet. Para siswa, melalui smartphone, tablet, atau laptop masing-masing sudah terkoneksi dengan Edubox yang dikelola oleh sang guru. Koneksi jaringan komputer di antara mereka semua sudah terwujud dalam sifat intranet.

Analog dengan internet, namun dalam lingkup terbatas saja. Yakni guru selaku pemberi ujian (melalui Edubox) dan gawai-gawai (devices) yang digunakan oleh para siswa (laptop/tablet/smartphone).

Internet hanya dibutuhkan sebelum ujian dilaksanakan dan setelah ujian selesai dilaksanakan saja. Sebelum ujian dilaksanakan: guna mengunduh (download) soal-soal dari peladen awan (cloud server) menuju Edubox. Pasca ujian: untuk mengunggah jawaban-jawaban masing-masing siswa dari Edubox menuju peladen awan.

Manajemen ujian via komputasi awan

Sekolah maupun guru, tidak perlu repot lagi menyediakan komputer peladen (computing server) sebagai komputer pusat sekaligus pengelola berbagai konten ujian maupun data-data terkait. Sebab, Pinisi sudah menyediakan layanan komputasi awan yang akan memudahkan manajemen soal-soal dan hasil-hasil ujian yang telah dan akan dilaksanakan oleh pihak sekolah.



Setting Mikrotik Untuk Ujian

Tidak perlu repot lagi melakukan setting mikrotik untuk ujian. Pinisi Edubox berisi router dan software untuk pelaksanaan ujian di sekolah secara digital.

Dengan Pinisi Edubox, sekolah anda tidak perlu lagi melakukan setting mikrotik untuk ujian.

Karena konfigurasi jaringan Edubox sudah sedemikian mudah. Apalagi kini, Edubox juga sudah terkoneksi dengan komputasi awan (cloud computing). Yakni suatu jenis komputasi yang memudahkan kita sebagai pengguna, karena tidak direpotkan lagi dengan persoalan peladen (server), terutama soal fisik server yang memakan ruang dan membutuhkan penanganan (treatment) tertentu (semisal pendingin udara).

Berikut adalah beberapa langkah menggunakan Edubox, sehingga tidak perlu repot melakukan setting mikrotik untuk ujian lagi:

  • Pertama, guru cukup membuat soal menggunakan Microsoft Word.
  • Kedua, unggah (upload) soal ke Edupress, yakni perangkat lunak yang sudah termasuk di dalam perangkat keras (hardware) Edubox. Membukanya dari laptop, tablet, atau smartphone mudah saja karena hanya membutuhkan peramban (browser).
  • Ketiga, unduh (download) soal-soal yang sudah berada di Edubox tersebut.
  • Keempat, sambungkan perangkat Edubox ke colokan listrik.
  • Kelima, sambungkan laptop guru ke Edubox menggunakan WiFi.
  • Keenam, masuk ke halaman admin guru. Lalu, lakukan log in.
  • Ketujuh, import soal (dalam format SQL yang sudah diunduh) ke edubox. Sekarang, soal sudah siap digunakan untuk ujian.
  • Kedelapan, sambungkan laptop/tablet/smartphone para siswa dengan Edubox menggunakan jaringan WiFi.
  • Kesembilan, buka aplikasi Edubox. Dan siswa bisa langsung mengerjakan soal-soal ujian. Di manapun, kapanpun, tanpa internet.

Ujian menggunakan Edubox berarti: hemat biaya, hemat waktu, dan hemat tenaga. Karena tidak perlu lagi melakukan setting mikrotik untuk ujian.

Beberapa di antara kita mungkin sudah tahu. Bahwasanya, Mikrotik adalah merek dagang (brand) suatu router yang dapat menghubungkan beberapa jaringan (Network). Dalam #jaringan yang lebih kompleks, Router bisa dimasukkan kode-kode yang menjadi panduan untuk memilihkan jalan bagi paket data untuk mencapai komputer tujuan.

Mikrotik Router dapat ditambahkan ke dalam arsitektur / topologi jaringan komputer di sekolah. Sehingga menjadi satu bagian dari keseluruhan jaringan internet yang tersambung dengan Internet Service Provider (ISP).

Bila sekolah anda belum memiliki jaringan yang menghubungkan komputer satu sama lain (termasuk dengan unit-unit di laboratorium komputer), maka WAJIB hukumnya untuk mendesain arsitektur/topologi jaringannya dahulu. Dalam desain ini, yang tidak boleh luput dari perhitungan adalah jumlah ruang kelas yang akan diberikan akses kepada jaringan komputer tersebut.

Demikian artikel kali ini, terima kasih atas perhatiannya.

Baca juga:

Mikrotik Untuk Ujian Online

mikrotik memudahkan kita semua. di sekolah, kita dapat menggunakan mikrotik untuk ujian online.

Dalam artikel ini akan dibahas mikrotik untuk ujian online.

Sesungguhnya, MikroTik adalah sebuah perusahaan kecil yang bermarkas di negara Latvia. Mikrotik difungsikan sebagai sistem operasi (operating system) dan perangkat lunak (software) yang dapat digunakan untuk memberikan peran router (perute) terhadap suatu komputer. Mikrotik sangat baik untuk provider hotspot dan warnet karena kemampuannya dalam mengadministrasi jaringan komputer.

Sekarang ini, Mikrotik telah menjadi primadona dalam pembuatan router dan administrasi dalam jaringan. Disebabkan kemudahan dan kesederhanaan tool yang disediakan membuat mikrotik menjadi pilihan banyak orang, tidak terkecuali oleh tim Pinisi Edubox.

Berikut adalah kemudahan dan kesederhanaan mikrotik:

  • Konfigurasi jaringan internet dapat dilakukan secara terpusat pada mikrotik sehingga memudahkan admin jaringan untuk mengelola jaringan tersebut.
  • Dapat digunakan untuk memblokir situs-situs terlarang yang mengandung konten pornografi dengan menggunakan proxy sehingga tercipta penggunaan internet yang positif.
  • Pengaturan dan Konfigurasi LAN dapat dilakukan dengan hanya mengandalkan PC Mikrotik Router OS dengan spesifikasi perangkat keras yang sangat rendah.

Untuk jaringan nirkabel (Wi-fi) produk Pinisi Edubox menggunakan Ubiquiti Unifi UAP dikombinasikan dengan mikrotik 951Ui 2HnD sebagai router dan tentuk saja Pinisi Edubox sebagai server.

Pada dasarnya dengan konfigurasi jaringan seperti di atas, sekolah sudah dapat melakukan ujian online/ujian berbasis komputer tanpa harus mempunyai lab komputer, bisa menggunakan gadget siswa (laptop, tablet dan smartphone). Konfigurasi tersebut sudah lolos ujicoba tim Pinisi Edubox adalah untuk 125 siswa ujian berbasis komputer/ujian online secara bersamaan.

Untuk sekolah yang punya lab komputer, cukup hubungkan hub/switch lab tersebut ke mikrotik, otomatis aplikasi Pinisi Edubox dapat digunakan.

Dari pengalaman selama ini ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk penggunaan Wi-Fi untuk akses ujian dalam jaringan:

Mikrotik yang berfungsi sebagai router. Disesuaikan dengan banyaknya user. Untuk user lebih dari 100 sampai 200 orang disarankan menggunakan Mikrotik RB 951 2Hnd. Kenapa mikrotik, karena menurut saya ini cukup familiar untuk kalangan pendidikan.

Demikianlah penggunaan mikrotik untuk ujian online di sekolah-sekolah.

Referensi:

Cara menggunakan edubox via LAN

Edubox bisa digunakan dalam kelas, untuk beberapa orang siswa dengan menggunakan LAN (Local Area Network), yakni suatu cara supaya para pengguna terhubung dengan server-nya secara intranet.

Di sini kita membutuhkan satu HP, dua laptop, satu kabel data, dan satu edubox. Berikut adalah pembagian peran di antara perangkat-perangkat tersebut:

  • Edubox sebagai server.
  • Laptop pertama sebagai perute (Bahasa Inggirsnya adalah router).
  • Sehingga device-device lainnya, yaitu laptop, smartphone atau tablet ada komputer clients di mana aplikasi edubox akan digunakan.

Berikut adalah langkah demi langkah cara menggunakan Edubox dengan koneksi LAN:

  1. Gunakan kabel data / kabel LAN untuk menghubungkan edubox dengan laptop pertama. Keberhasilan langkah ini ditandai dengan menyalanya lampu indikator.
  2. Hidupkan koneksi hotspot di HP. Setiap HP, langkahnya berbeda-beda. Silakan lakukan dengan HP anda.
  3. Koneksikan hotspot tersebut dengan router (yaitu laptop yang pertama)
  4. Selanjutnya adalah kita akan membagikan jejaring (network) LAN tersebut dengan cara biasa, yaitu menggunakan Windows. Caranya sebagai berikut. yaitu, buka Network and Sharing Center yang tersimpan di Control Panel. change adaptor settings. wireless-nya kita share. klik kanan, di properties, kita pilih sharing, allow other network/user to connect. kemudian klik yes.
  5. Nah, di device clients, dalam hal ini adalah laptop/smartphone/tablet yang kedua dan seterusnya, kita harus cek. Apakah koneksinya benar sudah terhubung atau belum. Tentu kita tinggal memperhatikan indikator di network.
  6. Kita juga bisa periksa apakah edubox sudah terkoneksi dengan smartphone, tablet, atau laptop lainnya yang akan digunakan untuk ujian. Dengan cara membuka peramban (browser) Google Chrome atau Mozilla Firefox. Karena aplikasi edubox yang berbasis peramban bisa dibuka dari kedua jenis browser ini.
  7. Kita masuk ke konfigurasi. kita input ujian. pilih UTS/UAS/US. kita import ujian, kita pilih mata pelajarannya dulu. ada keterangan di bawah nama-nama pelajaran yang berhasil dimasukkan.

Berbicara mengenai test, ada beberapa jenis test yang harus dilakukan sebagai persiapan guna memastikan kelancaran ujian berbasis komputer (computer-based test):

  • Test perangkat (device) yang akan digunakan oleh siswa; apakah device tersebut benar bisa mengakses dan menggunakan aplikasi edubox. barangkali ada kegagalan akses oleh device milik siswa yang disebabkan oleh sistem operasi Windows, atau aplikasi penunjangnya kurang update.
  • Test jumlah user. Misal jumlah user yang akan menggunakan edubox secara bersamaan, maka harus disimulasikan sebelum hari-h ujian apakah aplikasi edubox mampu melayani keseluruhan peserta tersebut secara bersamaan. Apabila sekali pelaksanaan ujian melibatkan 30 siswa, maka 30 siswa tersebut harus mencoba secara bersama-sama hingga berhasil. bila kapasitas edubox dan jaringannya hanya 20 siswa, sementara peserta ujian ada 30 siswa, maka pasti ada siswa yang tidak terlayani dengan baik.
  • Test kemampuan loading. Test ini maksudnya mengukur seberapa cepat loading bisa dilakukan oleh device (laptop/smartphone/tablet) milik client. test ini bisa dilakukan bersamaan dengan. test jumlah user.
  • Test jaringan. Yang diperiksa adalah kualitas, kecepatan, dan kestabilan pengiriman dan penerimaan data. Jaringan dengan kabel LAN tentu lebih stabil daripada jaringan dengan wireless (tanpa kabel). Jaringan dengan klien/user lebih sedikit tentu pengirman datanya akan lebih cepat. Misalnya sekali ujian dengan 5 siswa, tentu kecepatannya akan berbeda dengan ujian bersama 30 siswa sekaligus.

Demikian penting melaksanakan beberapa jenis test di atas. Sehingga sebaiknya siswa tidak langsung hadir ke ujian tanpa melalui test-test tersebut lebih dahulu.

3 cara mengatur komputer untuk mengakses LAN

Pertama adalah mengatur LAN lebih dahulu, kedua adalah menghubungkannya dengan komputer, terakhir adalah memberikan alamat IP pada jaringan tanpa perute. 

LAN (Local Area Network), alias suatu jejaring di mana beberapa perangkat (baik personal computer, smartphone, hingga tablet) saling terhubung satu sama lain.

Jenis jaringan, di mana salah satunya bisa jadi berupa LAN, akan turut menentukan berapa banyak komputer yang bisa terhubung dan seperti apa tingkat hubungannya satu sama lain. Maksudnya adalah seberapa cepat pertukaran data, unggah dan unduh (upload dan download) yang dapat dilakukan di antara jejaring perangkat tersebut.

Di dalam ruang kelas untuk UNBK atau CBT lainnya, kita membutuhkan lebih dari 20 perangkat yang terhubung satu sama lain.

  1. Jika Anda akan menghubungkan lebih dari 4 komputer, Anda memerlukan perute (router) dan switch. Jika Anda tidak perlu mengubungkan komputer-komputer tersebut ke internet, Anda tidak perlu membeli perute.

2. Tentukan tata letak jaringan. Di sinilah pentingnya ada rancangan/desain awal mengenai topologi, layout atau arsitektur jaringan.

3. Untuk membuat LAN, Anda perlu membeli perute dan/atau perangkat jaringan lain. Perangkat tersebut akan menjadi penghubung seluruh komputer dalam jaringan.

Perute akan memberikan alamat IP secara otomatis pada setiap komputer yang terhubung.

Switch berfungsi sama dengan perute, tetapi switch tidak dapat memberikan alamat IP secara otomatis. Umumnya, switch menyediakan lebih banyak porta ethernet dibanding perute.

4. Perute akan memudahkan Anda melakukan konfigurasi jaringan. Jika Anda hanya menggunakan switch untuk membangun jaringan, Anda harus memberikan alamat IP untuk setiap komputer yang akan dihubungkan.

5. Jika Anda menggunakan switch untuk menambahkan porta jaringan yang tersedia, sambungkan switch ke porta LAN di perute. Anda dapat menggunakan porta mana saja di switch untuk menghubungkan komputer ke jaringan. Setelah terhubung, perute akan memberikan alamat IP untuk setiap komputer yang terhubung.

B. Menghubungkan Komputer

  1. Menggunakan jaringan nirkabel
  2. Uji jaringan Anda (jika menggunakan perute). Perute akan memberikan alamat IP pada setiap komputer yang terhubung secara otomatis, dan komputer akan langsung muncul pada jaringan. 
  3. Aktifkan fitur berbagi berkas dan pencetak. Jika kedua fitur tersebut tidak diaktifkan, Anda tidak dapat mengakses sumber daya dari komputer lain. Namun, jika diaktifkan, Anda dapat membagikan berkas, folder, kandar, dan pencetak tertentu untuk digunakan dalam jaringan.

Referensi:

Pinisi Edubox, Terobosan Baru Ujian Berbasis Komputer tanpa Online

Sumber aslinya ada di sini:
https://gurudigital.id/pinisi-edubox-terobosan-baru-ujian-berbasis-komputer-tanpa-online/

Dunia saat ini telah memasuki abad 21 dimana teknologi informasi berkembang begitu pesat. Perkembangannya merasuk ke berbagai bidang. Dalam dunia pendidikan, peran kemajuan teknologi informasi sudah mulai dapat dirasakan. Salah satunya adalah ujian kelulusan yang sudah menggunakan teknologi digital yang kita kenal dengan nama UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer).

Dalam pelaksanaan UNBK tentu pemerintah sudah memfasilitasi sebagian besar sekolah. Yakni dengan memberikan fasilitas komputer dan jaringan internet. Meskipun di beberapa sekolah tertentu masih harus bergabung dengan sekolah lain yang fasilitasnya telah memadai. Namun, satu hal yang saat ini masih menjadi permasalahan bagi sekolah-sekolah adalah sulitnya melaksanakan try out online dengan teknis yang sama persis dengan pelaksanaan UNBK. Hal ini masih menjadi kendala karena ujian online terasa lebih ribet untuk murid dalam skala besar dan membutuhkan kuota yang tidak sedikit. Tryout yang dilaksanakan biasanya masih menggunakan kertas sebagai basisnya (paper-based test, PBT).

Terobosan Baru Try Out UNBK berbasis komputer tanpa online

Nah, perlu kita tahu nih. Bahwa sekarang sudah ada satu perangkat penunjang yang memungkinkan sekolah melaksanakan Try Out UNBK dengan teknis yang sama persis dengan pelaksanaan UNBK tetapi tidak perlu dilakukan secara online. Alias tidak terhubung ke internet, melainkan cukup dengan intranet saja. Sudah tahu perangkat yang dimaksud? Ya, harus kita tahu nih, perangkat ini bernama Pinisi Edubox. Pinisi Edubox merupakan perangkat berbasis Raspberry Pi 2 sebagai server untuk ujian online dalam jaringan lokal (intranet) tanpa perlu terhubung dengan internet. Pinisi Edubox ini akan membantu guru dan pihak sekolah untuk melakukan ujian berbasis komputer secara lebih praktis. Lengkap dengan platform yang membantu guru dalam membuat soal sekaligus mengakses hasil tesnya secara lengkap.

Pinisi Edubox rumit digunakan?

Mungkin ada yang membayangkan bahwa membangun sebuah sistem perangkat intranet di sekolah itu pasti rumit. Nah, untuk Pinisi Edubox ini, guru tidak perlu khawatir tentang teknis pemasangan, pelaksanaan hingga proses penilaian hasil ujian siswa. Karena dengan Pinisi Edubox, kita tidak perlu melakukan setting dan sinkronisasi server yang rumit. Semua jadi mudah karena manajemen ujian ini dijalankan via Cloud (komputasi awan). Di satu sisi guru dimudahkan dalam persiapan dan penilaian ujian, di lain pihak, siswa kita pun akan makin sering mendapat pengalaman melakukan penilaian berbasis komputer atau smartphone android tanpa menghabiskan kuota internet di sekolah. Bagaimana, apakah masih ragu menggunakan Pinisi Edubox di sekolah? Ada yang perlu kita tahu nih, di tahun 2017 kemaren, Start Up Pinisi EduBox dikirim sebagai wakil Indonesia dalam event Creative Business Cup di Denmark. Keren kan? Maka tidak heran jika hingga tahun 2017 kemaren, Pinisi Edubox ini sudah  sudah digunakan oleh sekitar 300 sekolah, dengan total 50.000 users, 8.000 ujian terpublish, dan soal sebanyak 250.000 butir soal. Tertarik untuk menjadi user selanjutnya? Silakan anda bisa mendapatkan info lebih detail di laman pinisi.io

Pinisi Edubox hanya untuk Try Out UNBK?

Oya, Pinisi Edubox tidak hanya untuk kepentingan try out UNBK saja lho, tetapi perangkat ini bisa juga dimanfaatkan untuk Penilaian Tengah Semester, Penilaian Akhir Tahun ataupun ulangan harian di kelas. Jadi Edubox pada dasarnya bisa digunakan untuk semua jenjang pendidikan, tidak hanya SMA/SMK saja. Bahkan Bimbingan Belajar sebenarnya juga bisa memanfaatkan manfaat EduBox ini. Bisa dipakai untuk latihan di kelas-kelas kecil mereka saat les. Hal ini tentu akan lebih menarik perhatian peserta les jika dilakukan secara teratur. Selamat Mencoba ya!

Cara Setting Jaringan UBK/UNBK

Jaringan UBK/UNBK selayaknya dikonfigurasikan dengan topologi star. Yaitu komputer server dan komputer klien terhubung ke suatu Switch/Hub.

Referensi: Cara Setting Jaringan UBK/UNBK alias cara konfigurasi jaringan UNBK.

Dalam membangun jaringan komputer untuk keperluan Ujian Berbasis Komputer (UBK), Ujian Nasional Berbasis Komputer, atau Computer Base Test (CBT) ini sama saja dengan membangun jaringan komputer seperti pada umumnya yaitu menggunakan topologi star. untuk orang yang sudah terbiasa berkecimpung dibidang jaringan komputer hal ini tentu sudah umum dan tidak asing lagi, namun bagi sebagian orang yang belum mempelajari jaringan komputer pasti akan bertanya-tanya apa maksud dari topologi star.

Topologi Star adalah metode penyusunan atau skenario jaringan dimana setiap komputer baik server maupun client sama-sama terhubung ke konsentrator yang kita kenal dengan sebutan Switch atau Hub. Konsentrator tersebut yang mengontrol seluruh fungsi jaringan dan sekaligus sebagai penguat aliran data pada topologi star, Jika konsentratornya mengalami gangguan atau kerusakan maka sudah pasti jaringan komputer ini akan muncul banyak masalah.

Oleh karena itulah bagi sekolah yang menyelenggarakan UBK/UNBK saya sarankan agar menggunakan Switch Hub yang berkualitas baik demi kelancaran pelaksanaan UBK/UNBK.

Mengapa UBK/UNBK menggunakan Topologi Star dalam setting jaringannya? Karena:

  • Pemasangannya sederhana dan mudah dalam pengkabelan. 
  • Tidak menyebabkan gangguan jaringan saat kita memasang dan memindahkan komputer. 
  • Mudah untuk mendeteksi kesalahan dan memindahkan komputer server atau client

Spesifikasi Minimal Server UBK/UNBK

Agar kegiatan ujian tidak menemui kendala, agar ujian lancar jaya 🙂 maka sekolah penyelenggara UBK/UNBK wajib menyediakan komputer server tiap ruangan, 1 server untuk melayani 40 client dan masing-masing server dengan spesifikasi minimal sebagai berikut:

  • Intel Core i5 
  • Ram 8GB
  • Hard disk 250GB
  • 2 kartu jaringan/ethernet
  • Power Suplay 500VA

Skema Topologi Star untuk Jaringan UBK/UNBK:

Inilah skema pemasangan jaringan komputer untuk pelaksanaan UBK/UNBK (klik gambar untuk melihat lebih besat)

Skema Topologi Jaringan UNBK UBK

Lihat gambar diatas, semua client komputer atau laptop terhubung ke HUB, ip address 192.168.0.0/24. Khusus untuk server kita pasang 2 ethernet, ethernet pertama (eth1) kita sambungkan ke HUB yang sama dengan client, dan ethernet kedua (eth2) kita sambungkan ke router atau modem.

Edubox adalah mini server yang turut berperan sebagai switch/hub, sehingga komputer klien mudah digunakan untuk pelaksanaan UBK/UNBK.

Baca Juga:

UNBK 2019 dan Polemik Curhatan Warganet di Media Sosial

Artikel aslinya ada di sini ya. Dengan judul yang persis sama.

Tren membanjirnya komentar siswa di laman Instagram @kemdikbud.ri masih terjadi di UNBK 2019 kali ini. Banyak yang terkesan becandaan seperti:
@alipbanana “Saya tau pak tadi itu cuman april mop, jadi kapan soal yang aslinya pak?”  atau
@cindiwahyudi tadi waktu ngerjain, saya Cuma bisa nyanyi lagu hmmmm 2 jam pak.”
Beberapa lainnya menumpahkan keluhan dengan lebih serius setengah putus asa :
@danndmk_Menurut pendapat saya, UN itu sangat menambah beban pikiran:”
@mardiyana_mardiyana Bikin soal mah gampang,Bicara mah gampang. Tp kenyataan di lapangan sangat berbeda,Blm yg komputer hang,blm yg lain2nya.
Lalu apakah komentar dan keluhan dari para generasi milenial dan generasi Z itu hanya untuk lucu-lucuan saja? Untuk ditertawakan bersama dan dianggap angin lalu sebagaimana layaknya tren sesaat.

Review UNBK 2019

Seperti kita tahu, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019 untuk tingkat SMK dan SMA telah selesai dilaksanakan. Pada 25 – 28 Maret 2019 telah diselenggarakan UN untuk jenjang SMK. Sedangkan UN untuk jenjang SMA/MA  telah terlaksana pada tanggal 1,2, 4 dan 8 April 2019. Dan untuk UNBK SMP/MTs  akan dilaksanakan 22-25 April 2019.

Sebagian besar sekolah di Indonesia telah melaksanakan UN dengan sistem UNBK. Untuk jenjang SMA, sebagai contoh, 97,8 persen berupa UNBK dan hanya 2,2 persen yang paper based. Ada tiga pelajaran utama yang diujikan di UN yaitu ; Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Untuk SMA ditambah satu mata pelajaran pilihan sesuai jurusan yang diambil siswa.

Masih ingat bagaimana dulu waktu sekolah kami menyelenggarakan UNBK untuk pertama kali di tahun 2015. Pontang-panting sekolah menyediakan komputer dalam jumlah banyak untuk siswa kelas XII yang jumlahnya hampir empat ratusan. Laboratorium komputer hanya berjumlah dua buah dengan komputer yang beberapa dalam keadaan rusak. Akhirnya ditambah sebuah lab tambahan, laptop guru semua dipinjam sekolah, beberapa laptop siswa juga dipinjam sekolah. Apalagi pernah waktu itu hujan angin, dengan banyak petir, sehingga servernya rusak. Wah, pengalaman pertama memang mendebarkan.

Sekarang setelah penyelenggaraan UNBK sudah semakin meluas, sekolah kami tidak lagi kesulitan mengadakan UNBK. Komputer sudah tersedia dalam jumlah yang cukup untuk diselenggarakan dalam tiga sesi. Tidak lagi perlu ada acara pinjam meminjam laptop. Proktor dan teknisi pun sudah semakin terlatih dan terampil. Hampir tidak ada kendala yang berarti pada teknis dan sarana prasarananya.

Suasana pelaksanaan UNBK di SMA N 2 Wonogiri pada 4 April 2019

Hanya saja, setelah UNBK untuk jenjang menengah atas yang telah terlaksana, saya amati kok keluhan siswa masih ada juga dalam jumlah yang tidak sedikit. Well,  anggapan saya sih, itu karena para peserta UNBK ini adalah anak-anak siswa SMK, SMA atau SMP yang merupakan bagian dari generasi Z. Dapat dikatakan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Sebuah generasi yang yang sudah begitu akrab dengan kecanggihan teknologi dan internet. Mereka sudah tidak asing dan bahkan multitasking untuk urusan ini itu sebagai bagian keseharian mereka. Dalam satu waktu mereka bisa saja nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik memakai headset. Mencurahkan pendapat dan keluhan melalui media sosial sudah menjadi hal umum.

Fenomena ramainya keluhan dari siswa peserta UNBK di laman instagram @kemdikbud.ri telah mencuri perhatian. Trend ini memang mulai booming sejak UNBK 2018 lalu. Dan di tahun ini pun berbagai curhatan lucu atau keluhan serius terlihat juga membanjiri linimasa media sosial. Benarkah itu semua hanya guyonan? Saya pun penasaran.

Eh, orek-orekanmu mau di isi opo?” teringat saya komentar seorang siswa seusai mengawas silang UNBK hari kedua. Matematika dikerjakan dengan lesu di dalam kelas.
“Halah, wong gone Robby isine malah puisi :Cintaku Kandas di Tengah Jalan” siswa perempuan disampingnya menimpali.
Mereka itu memang sedang ledek-ledekan betapa puyengnya mengerjakan soal matematika. Apalagi tahun ini ada soal isian singkat. Tidak hanya saya, ternyata pengawas di sekolah lain juga menyatakan hal yang sama. Beberapa siswa yang perasa malah terlihat berkaca-kaca setengah putus asa setelah keluar ruang ujian.

Hari berikutnya, lewat WA, saya berdiskusi dengan beberapa siswa kelas XII yang saya ajar. Hampir sebagian besar murid saya menyatakan bahwa soal matematika ampun sulitnya. Tahu sih rumus dasarnya, tapi variasinya menyusahkan mereka. Untuk soal Bahasa Indonesia, mereka bilang cenderung bisa menguasai. Ekky, salah satu siswa saya berkomentar “Hanya itu buu, teks nya panjang-panjang. Bahasa Inggris juga.”
“Apalagi membaca lewat komputer itu lain dari membaca lewat kertas fisik, bu. Pakai komputer tidak bisa dicoret garis bawah atau ditandai teksnya,” keluh Marcella menambahkan.

Jadi menurut saya, komentar di media sosial itu bukanlah sekedar gurauan tanpa arti. Memang anak generasi sekarang gaya menyampaikan opininya ya seperti itu. Dengan humor, setengah satire. Dan itu sebenarnya – cerdas. Menurut saya, semua komentar dan keluhan di laman tersebut harusnya tidak dianggap sekedar angin lalu. Pihak pemerintah, sekolah dan guru bisa juga melakukan refleksi terhadap semua postingan itu. Termasuk juga para pembuat soal.

Dosa Pembuat Soal HOTS 

Salah satu komentar di IG @kemdikbud.ri mengenai UNBK

Haissyy..ngeri saya kalau membaca postingan yang sampai bawa – bawa dalil begini. Saya amati ada beberapa postingan yang bernada demikian. Malah ada yang terang-terangan mengatakan bahwa pembuat soal UN itu hanya memikirkan diri sendiri. Tidak memikirkan kemampuan siswa. Soal UN begitu susah bagi kebanyakan siswa sehingga mereka menganggap pihak Kemdikbud atau pembuat soal sebagai pihak yang ‘nyusahin‘ aja kerjaannya. Dan menyusahkan orang itu dosa !

Seketika saja jadi baper, begitu kalau kata anak muda sekarang. Ini karena jelek – jelek gini saya pernah masuk seleksi sebagai pembuat soal yang diadakan PUSPENDIK di tahun 2017 lalu. Saya hanya nyumbang 60 soal saja sih diantara ribuan soal Bahasa Inggris lainnya untuk dijadikan Bank Soal UN DI Puspendik. Tetapi kan ngeri kalau gara-gara soal yang seuplik itu saya jadi dianggap ikut menyumbang dosa karena menyusahkan siswa yang mengerjakan Ujian Nasional.

Saya ingat waktu itu seleksinya cukup ketat. Tidak semua guru bisa masuk. Setelah proses perekrutan, kami pun diikutsertakan dalam semacam bimbingan teknis (bintek) yang diselenggarakan di beberapa kluster wilayah di Indonesia. Bulan Juli itu diikutkan bintek di Hotel Sheraton Jogja. Wah, jangan dikira bisa nyantai -nyantai saja. Materi-materi memang paling banyak difokuskan pada memahami dan melatih soal berjenis HOTS untuk soal pilihan ganda maupun isian singkat. Penyaji materi pun bukan sembarangan. Profesor dan ahli pendidikan maupun assesment dihadirkan untuk mengisi pemahaman tiap peserta.

Pembuat soal yang tidak berniat nyusahin saat bintek di Jogja : )

Setelah bintek selama empat hari tiga malam itu, tiap pembuat soal diberi tugas membuat soal dalam jumlah tertentu. Setoran dilakukan lewat aplikasi dari SIAP Puspendik. Jangan dikira pula langsung bisa lolos. PJ akan memberi komentar atau bahkan mengembalikan soal yang dianggap belum masuk kriteria berfikir tingkat tinggi. Soal yang hanya berdasar hafalan atau mencari ide pokok yang jelas-jelas tertulis diawal kalimat, pasti akan ditolak. Kami bisa saja bolak-balik melakukan revisi. Soal – soal yang kami buat pun dilengkapi dengan peringkat bintang.

Selesai? Beluuuum. berikutnya masih ada tahapan penelaahan soal oleh beberapa guru pilihan yang peringkat bintangnya cukup tinggi dibantu dengan penelaah ahli. Untuk Bahasa Inggris dilengkapi dari pihak relawan native speaker. Orang bule , kalau kita bilang. Setelah itupun masih ada tahapan lagi di tingkat pusat sebelum dimasukkan dalam sistem Bank Soal UN.

Tahun ini memang baru matematika yang diberi soal isian singkat. Kelak isian singkat bisa juga muncul di soal Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Asal tahu saja, penulis soal untuk Bank Soal UN sudah ditugaskan membuat soal jenis ini juga untuk yang bahasa. Hanya saja mungkin penerapan soal isian ini dilakukan secara bertahap.

Jadi kalau ada yang bilang, pembuat soal hanya memikirkan diri sendiri, ya tidak begitu lah. Apalagi kalau dibilang membuat soal mah gambang aja, sepertinya tidak juga ah. Apalagi, demi Alloh, saya yakin tidak ada satupun pembuat soal yang berniat menyusahkan orang lain. Apalagi nyusahin para generasi Z yang unyu dan imuut. Mana tegaa.

Keberadaan soal HOTS atau Higher Order Thinking Skills merupakan salah satu kambing hitam dari kebanyakan keluhan itu. Soal HOTS ini sebenarnya tidak selalu soal yang sulit, soal jenis ini memang jenis soal yang memerlukan pemikiran berlapis-lapis, tidak bisa langsung sekali tebak. Tujuannya pun sebenarnya mulia, yaitu agar siswa lulusan sekolah Indonesia kelak bisa bersaing di era pasar bebas. Berpikiran kritis itu mutlak diperlukan agar bisa menang di persaingan itu. Ya memang HOTS dan assesment dengan pola HOTS ini sudah menjadi bagian tuntutan dunia global. Masa sih kita tidak mau maju. Saya yakin, makin lama siswa tidak akan asing akan UNBK dengan soal HOTS.

Practice Makes Perfect

Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk merespon polemik keluhan netizen tentang UNBK itu? Ini sesungguhnya adalah hal yang lebih penting untuk kita pikirkan daripada saling menyalahkan. Menurut saya sebenarnya kuncinya adalah pada latihan. Practice makes perfect; Latihan akan membantu menuju kesempurnaan.

HOTS adalah skill atau keterampilan. Untuk bisa terampil akan suatu hal, kita tidak bisa hanya dengan membaca buku manualnya saja. Sama seperti belajar naik sepeda, mana bisa kita akan lancar menaikinya jika kita sepanjang waktu hanya membaca petunjuk manualnya saja tanpa berlatih mengendarainya. Berpikir dengan aras tinggi juga begitu, perlu dilatihkan.

Guru dan sekolah harusnya memikirkan untuk melatihkan HOTS di setiap jenis penilaian yang dilakukan. Tidak semua butir soal harus mengarah ke HOTS. Komposisinya bisa saja disesuaikan dengan konsep UN saat ini : 10 – 15 persen untuk penalaran, 50 – 60 persen untuk aplikasi, dan 25 – 30 persen untuk pengetahuan dan pemahaman. Setiap selesai assesment dilakukan review hasil nilainya untuk perbaikan dan pengayaan lebih lanjut.
Makin tambah kerjaan donk. Mana sempat?!

Ujian Online Kini Bisa Tanpa Internet 

“Menurut saya, UNBK kan online bu, seharusnya itu try out nya juga selalu dilakukan secara online,” komentar Titan, salah satu murid saya di kelas XII IPA. Menurutnya dengan sering try out secara online, siswa akan terbiasa menghadapi soal yang ditayangkan lewat layar. “Biar suasananya juga dapet, bu.” imbuhnya.

Benar kan, anak-anak sekarang itu sudah punya bekal berfikiran kritis dan berani mengungkapkan opini. Tinggal latihan lebih banyak, dan HOTS di soal UNBK tak akan jadi masalah besar lagi. Latihannya pun kalau bisa sesering mungkin secara online agar mereka terbiasa dalam melakukan ujian berbasis komputer

Memang diakui, sekolah kami belum selalu melakuan try out dengan computer based. Dari beberapa kali try out, hanya sekali kami lakukan secara online. Lainnya masih  try out secara paper based. Ini karena ujian online terasa lebih ribet untuk murid dalam skala besar. Apalagi kalau maunya diadakan di kelas dengan jaringan internet. Pernah ada wacana mau tes memakai laptop siswa atau android, tetapi siswa akan merasa dirugikan jika kuota internetnya dari mereka pribadi.

Beruntung sekarang sudah ada Pinisi Edubox yang spesifikasinya bisa dilihat-lihat di https://pinisi.io

Spesifikasi Pinisi EduBox

Pinisi Edubox merupakan perangkat berbasis Raspberry Pi 2 sebagai server untuk ujian online dalam jaringan lokal (intranet) tanpa tergantung akses internet. Adrian Febri, CEO PT Pinisi Teknologi Edukasi, menyatakan bahwa Edubox merupakan platform assesment atau penilaian online sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Edubox ini akan membantu guru dan pihak sekolah untuk melakukan ujian berbasis komputer secara lebih praktis. Lengkap dengan platform yang membantu guru dalam membuat soal sekaligus mengakses hasil tesnya secara lengkap.

Karena perangkatnya ringkas, maka penilaian berbasis komputer dapat dilaksanakan kapan saja dan tanpa memerlukan koneksi internet saat tes. Dengan Pinisi Edubox, kita tidak perlu melakukan setting dan sinkronisasi server yang rumit. Semua jadi mudah karena manajemen ujian ini dijalankan via Cloud. Di satu sisi guru dimudahkan dalam persiapan dan penilaian ujian, di lain pihak, siswa pun akan makin sering mendapat pengalaman melakukan penilaian berbasis komputer atau android tanpa menghabiskan kuota internet mereka.

Keterangan lebih lanjut akan bisa anda dapati di laman https://getedubox.com/

Penasaran dong siapa pengembang dibalik Edubox yang canggih dan praktis ini. Saya pun penasaran dan cari tahu. Dan ehmmm, rupanya Pinisi Edubox ini merupakan salah satu start up kebanggan Indonesia. Bahkan pada tahun 2017, start up Pinisi EduBox dikirim sebagai wakil negara kita untuk ajang Creative Business Cup di Denmark. Terbukti, EduBox ini bukanlah produkan asal – asalan, apalagi abal-abal.

Berdasar data, hingga 2017, penggunaan Edubox sudah mencakup sekitar 300 sekolah, dengan total 50.000 users, 8.000 ujian terpublish, dan soal sebanyak 250.000 butir soal. Testimoni beberapa guru yang telah menggunakan Pinisi Edubox ini dapat anda amati di YouTube Pinisi Edubox . Tersedia beberapa tayangan tentang apa itu Pinisi Edubox, cara penggunaannya, cara penulisan soal, mengakses hasil nilai siswa, dan tutorial pemasangan Edubox.

Ilutrasi penggunaan EduBox di kelas dari tayangan  di YouTube

Dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan Pinisi EduBox, sekolah -sekolah kini tidak perlu ragu-ragu untuk sering-sering  menyelenggaran test atau assesment secara online berbasis komputer. Tidak hanya untuk kepentingan try out, Pinisi EduBox ini bisa juga dimanfaatkan untuk Penilaian Tengah Semester, Penilaian Akhir Semester ataupun ulangan harian di kelas. Jadi Edubox pada dasarnya bisa digunakan untuk semua jenjang pendidikan, tidak hanya SMA/SMK saja. Beberapa SMP dan SD di Bandung sudah ada yang aktif menggunakan assesment online dengan mengambil manfaat dari Pinisi EduBox ini.

Bahkan Bimbingan Belajar sebenarnya juga bisa memanfaatkan manfaat EduBox ini. Bisa dipakai untuk latihan di kelas-kelas kecil mereka saat les. Ini pasti akan lebih menarik perhatian peserta les jika dilakukan secara teratur. Berlatih soal dengan model berpikir aras tinggi secara online sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi siswa saat ini. Memang mungkin begitulah bagian dari tuntutan era 4.0 sekarang ini.

Dengan seringnya diadakan latihan tes dengan soal HOTS dan berbasis komputer, harapannya di masa mendatang, keluhan-keluhan atau komentar negatif akan UNBK tidak akan lagi memenuhi linimasa media sosial. Semua siswa akan merasa siap untuk sukses dalam menghadapi UNBK.

“Practice creates confidence. Confidence empowers you.”- Simone Biles