UNBK 2019 dan Polemik Curhatan Warganet di Media Sosial

Artikel aslinya ada di sini ya. Dengan judul yang persis sama.

Tren membanjirnya komentar siswa di laman Instagram @kemdikbud.ri masih terjadi di UNBK 2019 kali ini. Banyak yang terkesan becandaan seperti:
@alipbanana “Saya tau pak tadi itu cuman april mop, jadi kapan soal yang aslinya pak?”  atau
@cindiwahyudi tadi waktu ngerjain, saya Cuma bisa nyanyi lagu hmmmm 2 jam pak.”
Beberapa lainnya menumpahkan keluhan dengan lebih serius setengah putus asa :
@danndmk_Menurut pendapat saya, UN itu sangat menambah beban pikiran:”
@mardiyana_mardiyana Bikin soal mah gampang,Bicara mah gampang. Tp kenyataan di lapangan sangat berbeda,Blm yg komputer hang,blm yg lain2nya.
Lalu apakah komentar dan keluhan dari para generasi milenial dan generasi Z itu hanya untuk lucu-lucuan saja? Untuk ditertawakan bersama dan dianggap angin lalu sebagaimana layaknya tren sesaat.

Review UNBK 2019

Seperti kita tahu, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019 untuk tingkat SMK dan SMA telah selesai dilaksanakan. Pada 25 – 28 Maret 2019 telah diselenggarakan UN untuk jenjang SMK. Sedangkan UN untuk jenjang SMA/MA  telah terlaksana pada tanggal 1,2, 4 dan 8 April 2019. Dan untuk UNBK SMP/MTs  akan dilaksanakan 22-25 April 2019.

Sebagian besar sekolah di Indonesia telah melaksanakan UN dengan sistem UNBK. Untuk jenjang SMA, sebagai contoh, 97,8 persen berupa UNBK dan hanya 2,2 persen yang paper based. Ada tiga pelajaran utama yang diujikan di UN yaitu ; Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Untuk SMA ditambah satu mata pelajaran pilihan sesuai jurusan yang diambil siswa.

Masih ingat bagaimana dulu waktu sekolah kami menyelenggarakan UNBK untuk pertama kali di tahun 2015. Pontang-panting sekolah menyediakan komputer dalam jumlah banyak untuk siswa kelas XII yang jumlahnya hampir empat ratusan. Laboratorium komputer hanya berjumlah dua buah dengan komputer yang beberapa dalam keadaan rusak. Akhirnya ditambah sebuah lab tambahan, laptop guru semua dipinjam sekolah, beberapa laptop siswa juga dipinjam sekolah. Apalagi pernah waktu itu hujan angin, dengan banyak petir, sehingga servernya rusak. Wah, pengalaman pertama memang mendebarkan.

Sekarang setelah penyelenggaraan UNBK sudah semakin meluas, sekolah kami tidak lagi kesulitan mengadakan UNBK. Komputer sudah tersedia dalam jumlah yang cukup untuk diselenggarakan dalam tiga sesi. Tidak lagi perlu ada acara pinjam meminjam laptop. Proktor dan teknisi pun sudah semakin terlatih dan terampil. Hampir tidak ada kendala yang berarti pada teknis dan sarana prasarananya.

Suasana pelaksanaan UNBK di SMA N 2 Wonogiri pada 4 April 2019

Hanya saja, setelah UNBK untuk jenjang menengah atas yang telah terlaksana, saya amati kok keluhan siswa masih ada juga dalam jumlah yang tidak sedikit. Well,  anggapan saya sih, itu karena para peserta UNBK ini adalah anak-anak siswa SMK, SMA atau SMP yang merupakan bagian dari generasi Z. Dapat dikatakan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Sebuah generasi yang yang sudah begitu akrab dengan kecanggihan teknologi dan internet. Mereka sudah tidak asing dan bahkan multitasking untuk urusan ini itu sebagai bagian keseharian mereka. Dalam satu waktu mereka bisa saja nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik memakai headset. Mencurahkan pendapat dan keluhan melalui media sosial sudah menjadi hal umum.

Fenomena ramainya keluhan dari siswa peserta UNBK di laman instagram @kemdikbud.ri telah mencuri perhatian. Trend ini memang mulai booming sejak UNBK 2018 lalu. Dan di tahun ini pun berbagai curhatan lucu atau keluhan serius terlihat juga membanjiri linimasa media sosial. Benarkah itu semua hanya guyonan? Saya pun penasaran.

Eh, orek-orekanmu mau di isi opo?” teringat saya komentar seorang siswa seusai mengawas silang UNBK hari kedua. Matematika dikerjakan dengan lesu di dalam kelas.
“Halah, wong gone Robby isine malah puisi :Cintaku Kandas di Tengah Jalan” siswa perempuan disampingnya menimpali.
Mereka itu memang sedang ledek-ledekan betapa puyengnya mengerjakan soal matematika. Apalagi tahun ini ada soal isian singkat. Tidak hanya saya, ternyata pengawas di sekolah lain juga menyatakan hal yang sama. Beberapa siswa yang perasa malah terlihat berkaca-kaca setengah putus asa setelah keluar ruang ujian.

Hari berikutnya, lewat WA, saya berdiskusi dengan beberapa siswa kelas XII yang saya ajar. Hampir sebagian besar murid saya menyatakan bahwa soal matematika ampun sulitnya. Tahu sih rumus dasarnya, tapi variasinya menyusahkan mereka. Untuk soal Bahasa Indonesia, mereka bilang cenderung bisa menguasai. Ekky, salah satu siswa saya berkomentar “Hanya itu buu, teks nya panjang-panjang. Bahasa Inggris juga.”
“Apalagi membaca lewat komputer itu lain dari membaca lewat kertas fisik, bu. Pakai komputer tidak bisa dicoret garis bawah atau ditandai teksnya,” keluh Marcella menambahkan.

Jadi menurut saya, komentar di media sosial itu bukanlah sekedar gurauan tanpa arti. Memang anak generasi sekarang gaya menyampaikan opininya ya seperti itu. Dengan humor, setengah satire. Dan itu sebenarnya – cerdas. Menurut saya, semua komentar dan keluhan di laman tersebut harusnya tidak dianggap sekedar angin lalu. Pihak pemerintah, sekolah dan guru bisa juga melakukan refleksi terhadap semua postingan itu. Termasuk juga para pembuat soal.

Dosa Pembuat Soal HOTS 

Salah satu komentar di IG @kemdikbud.ri mengenai UNBK

Haissyy..ngeri saya kalau membaca postingan yang sampai bawa – bawa dalil begini. Saya amati ada beberapa postingan yang bernada demikian. Malah ada yang terang-terangan mengatakan bahwa pembuat soal UN itu hanya memikirkan diri sendiri. Tidak memikirkan kemampuan siswa. Soal UN begitu susah bagi kebanyakan siswa sehingga mereka menganggap pihak Kemdikbud atau pembuat soal sebagai pihak yang ‘nyusahin‘ aja kerjaannya. Dan menyusahkan orang itu dosa !

Seketika saja jadi baper, begitu kalau kata anak muda sekarang. Ini karena jelek – jelek gini saya pernah masuk seleksi sebagai pembuat soal yang diadakan PUSPENDIK di tahun 2017 lalu. Saya hanya nyumbang 60 soal saja sih diantara ribuan soal Bahasa Inggris lainnya untuk dijadikan Bank Soal UN DI Puspendik. Tetapi kan ngeri kalau gara-gara soal yang seuplik itu saya jadi dianggap ikut menyumbang dosa karena menyusahkan siswa yang mengerjakan Ujian Nasional.

Saya ingat waktu itu seleksinya cukup ketat. Tidak semua guru bisa masuk. Setelah proses perekrutan, kami pun diikutsertakan dalam semacam bimbingan teknis (bintek) yang diselenggarakan di beberapa kluster wilayah di Indonesia. Bulan Juli itu diikutkan bintek di Hotel Sheraton Jogja. Wah, jangan dikira bisa nyantai -nyantai saja. Materi-materi memang paling banyak difokuskan pada memahami dan melatih soal berjenis HOTS untuk soal pilihan ganda maupun isian singkat. Penyaji materi pun bukan sembarangan. Profesor dan ahli pendidikan maupun assesment dihadirkan untuk mengisi pemahaman tiap peserta.

Pembuat soal yang tidak berniat nyusahin saat bintek di Jogja : )

Setelah bintek selama empat hari tiga malam itu, tiap pembuat soal diberi tugas membuat soal dalam jumlah tertentu. Setoran dilakukan lewat aplikasi dari SIAP Puspendik. Jangan dikira pula langsung bisa lolos. PJ akan memberi komentar atau bahkan mengembalikan soal yang dianggap belum masuk kriteria berfikir tingkat tinggi. Soal yang hanya berdasar hafalan atau mencari ide pokok yang jelas-jelas tertulis diawal kalimat, pasti akan ditolak. Kami bisa saja bolak-balik melakukan revisi. Soal – soal yang kami buat pun dilengkapi dengan peringkat bintang.

Selesai? Beluuuum. berikutnya masih ada tahapan penelaahan soal oleh beberapa guru pilihan yang peringkat bintangnya cukup tinggi dibantu dengan penelaah ahli. Untuk Bahasa Inggris dilengkapi dari pihak relawan native speaker. Orang bule , kalau kita bilang. Setelah itupun masih ada tahapan lagi di tingkat pusat sebelum dimasukkan dalam sistem Bank Soal UN.

Tahun ini memang baru matematika yang diberi soal isian singkat. Kelak isian singkat bisa juga muncul di soal Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Asal tahu saja, penulis soal untuk Bank Soal UN sudah ditugaskan membuat soal jenis ini juga untuk yang bahasa. Hanya saja mungkin penerapan soal isian ini dilakukan secara bertahap.

Jadi kalau ada yang bilang, pembuat soal hanya memikirkan diri sendiri, ya tidak begitu lah. Apalagi kalau dibilang membuat soal mah gambang aja, sepertinya tidak juga ah. Apalagi, demi Alloh, saya yakin tidak ada satupun pembuat soal yang berniat menyusahkan orang lain. Apalagi nyusahin para generasi Z yang unyu dan imuut. Mana tegaa.

Keberadaan soal HOTS atau Higher Order Thinking Skills merupakan salah satu kambing hitam dari kebanyakan keluhan itu. Soal HOTS ini sebenarnya tidak selalu soal yang sulit, soal jenis ini memang jenis soal yang memerlukan pemikiran berlapis-lapis, tidak bisa langsung sekali tebak. Tujuannya pun sebenarnya mulia, yaitu agar siswa lulusan sekolah Indonesia kelak bisa bersaing di era pasar bebas. Berpikiran kritis itu mutlak diperlukan agar bisa menang di persaingan itu. Ya memang HOTS dan assesment dengan pola HOTS ini sudah menjadi bagian tuntutan dunia global. Masa sih kita tidak mau maju. Saya yakin, makin lama siswa tidak akan asing akan UNBK dengan soal HOTS.

Practice Makes Perfect

Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk merespon polemik keluhan netizen tentang UNBK itu? Ini sesungguhnya adalah hal yang lebih penting untuk kita pikirkan daripada saling menyalahkan. Menurut saya sebenarnya kuncinya adalah pada latihan. Practice makes perfect; Latihan akan membantu menuju kesempurnaan.

HOTS adalah skill atau keterampilan. Untuk bisa terampil akan suatu hal, kita tidak bisa hanya dengan membaca buku manualnya saja. Sama seperti belajar naik sepeda, mana bisa kita akan lancar menaikinya jika kita sepanjang waktu hanya membaca petunjuk manualnya saja tanpa berlatih mengendarainya. Berpikir dengan aras tinggi juga begitu, perlu dilatihkan.

Guru dan sekolah harusnya memikirkan untuk melatihkan HOTS di setiap jenis penilaian yang dilakukan. Tidak semua butir soal harus mengarah ke HOTS. Komposisinya bisa saja disesuaikan dengan konsep UN saat ini : 10 – 15 persen untuk penalaran, 50 – 60 persen untuk aplikasi, dan 25 – 30 persen untuk pengetahuan dan pemahaman. Setiap selesai assesment dilakukan review hasil nilainya untuk perbaikan dan pengayaan lebih lanjut.
Makin tambah kerjaan donk. Mana sempat?!

Ujian Online Kini Bisa Tanpa Internet 

“Menurut saya, UNBK kan online bu, seharusnya itu try out nya juga selalu dilakukan secara online,” komentar Titan, salah satu murid saya di kelas XII IPA. Menurutnya dengan sering try out secara online, siswa akan terbiasa menghadapi soal yang ditayangkan lewat layar. “Biar suasananya juga dapet, bu.” imbuhnya.

Benar kan, anak-anak sekarang itu sudah punya bekal berfikiran kritis dan berani mengungkapkan opini. Tinggal latihan lebih banyak, dan HOTS di soal UNBK tak akan jadi masalah besar lagi. Latihannya pun kalau bisa sesering mungkin secara online agar mereka terbiasa dalam melakukan ujian berbasis komputer

Memang diakui, sekolah kami belum selalu melakuan try out dengan computer based. Dari beberapa kali try out, hanya sekali kami lakukan secara online. Lainnya masih  try out secara paper based. Ini karena ujian online terasa lebih ribet untuk murid dalam skala besar. Apalagi kalau maunya diadakan di kelas dengan jaringan internet. Pernah ada wacana mau tes memakai laptop siswa atau android, tetapi siswa akan merasa dirugikan jika kuota internetnya dari mereka pribadi.

Beruntung sekarang sudah ada Pinisi Edubox yang spesifikasinya bisa dilihat-lihat di https://pinisi.io

Spesifikasi Pinisi EduBox

Pinisi Edubox merupakan perangkat berbasis Raspberry Pi 2 sebagai server untuk ujian online dalam jaringan lokal (intranet) tanpa tergantung akses internet. Adrian Febri, CEO PT Pinisi Teknologi Edukasi, menyatakan bahwa Edubox merupakan platform assesment atau penilaian online sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Edubox ini akan membantu guru dan pihak sekolah untuk melakukan ujian berbasis komputer secara lebih praktis. Lengkap dengan platform yang membantu guru dalam membuat soal sekaligus mengakses hasil tesnya secara lengkap.

Karena perangkatnya ringkas, maka penilaian berbasis komputer dapat dilaksanakan kapan saja dan tanpa memerlukan koneksi internet saat tes. Dengan Pinisi Edubox, kita tidak perlu melakukan setting dan sinkronisasi server yang rumit. Semua jadi mudah karena manajemen ujian ini dijalankan via Cloud. Di satu sisi guru dimudahkan dalam persiapan dan penilaian ujian, di lain pihak, siswa pun akan makin sering mendapat pengalaman melakukan penilaian berbasis komputer atau android tanpa menghabiskan kuota internet mereka.

Keterangan lebih lanjut akan bisa anda dapati di laman https://getedubox.com/

Penasaran dong siapa pengembang dibalik Edubox yang canggih dan praktis ini. Saya pun penasaran dan cari tahu. Dan ehmmm, rupanya Pinisi Edubox ini merupakan salah satu start up kebanggan Indonesia. Bahkan pada tahun 2017, start up Pinisi EduBox dikirim sebagai wakil negara kita untuk ajang Creative Business Cup di Denmark. Terbukti, EduBox ini bukanlah produkan asal – asalan, apalagi abal-abal.

Berdasar data, hingga 2017, penggunaan Edubox sudah mencakup sekitar 300 sekolah, dengan total 50.000 users, 8.000 ujian terpublish, dan soal sebanyak 250.000 butir soal. Testimoni beberapa guru yang telah menggunakan Pinisi Edubox ini dapat anda amati di YouTube Pinisi Edubox . Tersedia beberapa tayangan tentang apa itu Pinisi Edubox, cara penggunaannya, cara penulisan soal, mengakses hasil nilai siswa, dan tutorial pemasangan Edubox.

Ilutrasi penggunaan EduBox di kelas dari tayangan  di YouTube

Dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan Pinisi EduBox, sekolah -sekolah kini tidak perlu ragu-ragu untuk sering-sering  menyelenggaran test atau assesment secara online berbasis komputer. Tidak hanya untuk kepentingan try out, Pinisi EduBox ini bisa juga dimanfaatkan untuk Penilaian Tengah Semester, Penilaian Akhir Semester ataupun ulangan harian di kelas. Jadi Edubox pada dasarnya bisa digunakan untuk semua jenjang pendidikan, tidak hanya SMA/SMK saja. Beberapa SMP dan SD di Bandung sudah ada yang aktif menggunakan assesment online dengan mengambil manfaat dari Pinisi EduBox ini.

Bahkan Bimbingan Belajar sebenarnya juga bisa memanfaatkan manfaat EduBox ini. Bisa dipakai untuk latihan di kelas-kelas kecil mereka saat les. Ini pasti akan lebih menarik perhatian peserta les jika dilakukan secara teratur. Berlatih soal dengan model berpikir aras tinggi secara online sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi siswa saat ini. Memang mungkin begitulah bagian dari tuntutan era 4.0 sekarang ini.

Dengan seringnya diadakan latihan tes dengan soal HOTS dan berbasis komputer, harapannya di masa mendatang, keluhan-keluhan atau komentar negatif akan UNBK tidak akan lagi memenuhi linimasa media sosial. Semua siswa akan merasa siap untuk sukses dalam menghadapi UNBK.

“Practice creates confidence. Confidence empowers you.”- Simone Biles

Aplikasi Edubox Aplikasi Ujian Online

Aplikasi Edubox, sebuah aplikasi untuk ujian online.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer-Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper-Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Dalam artikel ini kita akan bahas aplikasi edubox yang berbasis komputer offline. Atau, aplikasi ujian online.

Penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pertama diselenggarakan pada tahun 2014 secara online yang diikuti secara terbatas di SMP Indonesia Singapura serta SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil dari penyelenggaraan UNBK  tersebut cukup dianggap cukup menggembirakan sehingga dapat untuk mendorong meningkatkan literasi siswa terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Salah satunya diwujudkan dengan bantuan aplikasi ujian online.

jumlah sekolah peserta UNBK (ujian nasional berbasis komputer) tahun 2015-2017

Melihat hasil yang cukup menggembirakan di tahun 2014 selanjutnya pada tahun 2015 secara bertahap dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari  379 SMK, 135 SMA/MA, dan 42 SMP/MTs di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Selanjutnya pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK. Jumlah sekolah yang mengikuti UNBK tahun 2017 melonjak tajam menjadi 30.577 sekolah yang terdiri dari 11.096 SMP/MTs, 9.652 SMA/MA dan 9.829 SMK. Semakin banyak sekolah yang menggunakan aplikasi ujian online.

Meningkatnya jumlah sekolah UNBK pada tahun 2017 ini seiring dengan kebijakan resources sharing (berbagi sumber daya) yang dikeluarkan oleh Kemendikbud yaitu memperkenankan sekolah yang sarana komputernya masih terbatas melaksanakan UNBK di sekolah lain yang sarana komputernya sudah memadai. Sehingga aplikasi ujian online dari sebuah sekolah dapat digunakan oleh beberapa sekolah sekaligus.

Penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah),  kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload). Sumber : https://ubk.kemdikbud.go.id

Demikianlah yang kami sebut dengan ujian online tetapi offline. Alias ujian berbasis komputer secara offline.

Hubungan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan UNBK

Setelah UNBK selesai,  komputer/ laptop maupun server bisa digunakan untuk kegiatan ujian harian (UH), ujian tengah semester (UTS) maupun Ujian akhir semester (UAS) yang dapat dilakukan secara offline maupun online. Apalagi sekarang banyak sekali aplikasi berbasis web yang sifatnya open source (free) dan gratis yang bisa didownload di internet dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Jadi laboratorium UNBK yang sudah tersedia tersebut, tidak hanya digunakan setahun sekali pada masa Ujian Nasional saja, tetapi juga dapat digunakan untuk ujian-ujian rutin di sekolah.

Disebut offline, karena dalam ujian ini hanya memerlukan jaringan LAN dan Server unbk saja, tidak memerlukan koneksi internet maka disebut offline.

Ujian berbasis komputer secara offline, tentu saja memiliki tata cara tersendiri. Berikut adalah tata cara ujian berbasis komputer yang dapat kita sarankan kepada para siswa.

Tata cara ujian berbasis komputer

  • Jangan khawatir berlebihan. Malah akan berakibat buruk karena mendatangkan stress/tekanan. Kalau sudah begitu, malah sulit fokus mengerjakan ujian sehingga semua yang dipelajari malah terlupa.
  • Supaya tidak khawatir berkepanjangan, kita perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mulai dari latihan mengerjakan soal ujian berbasis komputer, sampai dengan mempelajari kisi-kisi ujian itu sendiri.
  • Ketika ujian, fokus pada pengerjaan soal ujian itu sendiri. Teliti pada maksud dari pertanyaan dan jawaban yang harus kita pilih atau berikan. Jangan sampai lupa juga dengan pengisian data pribadi. Harus lengkap tidak boleh ada yang tertinggal.
  • Tidak hanya simulasi mengerjakan soal secara digital. Belajar secara digital juga penting. Aplikasi Edubox memberikan keduanya. Belajar dan mengerjakan soal dari perangkat pribadi (laptop/smartphone) dengan bantuan perangkat pintar seperti Edubox yang berperan sebagai peladen (server) berukuran mini.
  • Pelajari juga cara menggunakan komputer saat UNBK. Bersama teman-teman dekatmu, ajak mereka untuk menggunakan komputer dengan browser atau aplikasi simulasi UNBK. Bila belum ada yang mengetahui minta guru wali kelas atau lewat guru komputer untuk mengadakan simulasi UNBK di sekolah.

Perangkat Edubox terdiri dari Edubox Smart Router dan Edubox Mini Server. Keduanya memiliki aplikasi Edubox di dalamnya. Berikut ini adalah perbandingan di antara keduanya.

Perbandingan Edubox Smart Router dengan Edubox Mini Server

Smart Router

  • Device ini akan berfungsi maksimal apabila disambungkan dengan WiFI (wireless) di kelas
  • Menggunakan cloud computing, sehingga bisa diintegrasikan untuk satu sekolah.
  • Portable di kelas biasa (non-lab komputer).

Mini Server

  • Device ini harus digabungkan dengan Router WiFI
  • Device ini dapat mengoptimalkan laboratorium UNBK (yang sudah menggunakan LAN) untuk dapat digunakan sebagai KBM.

Related Post(s):

Edubox Bandung – Press Release

Sebanyak 120 sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Kota Bandung, Jawa Barat, telah menggunakan sistem smart city di ranah pendidikan bernama Edubox. Demikianlah salah satu fakta edubox.

Edubox adalah aplikasi berbasis web yang terdiri dari aplikasi ujian, tugas, dan materi dalam jaringan lokal (intranet) tanpa tergantung kepada akses internet yang diciptakan oleh PT Pinisi Teknologi Edukasi (Pinisi Edubox).

“Alhamdulillah, sejak kami mulai beroperasi di tahun 2015 hingga saat ini sudah ada 120 sekolah tingkat sekolah dasar hingga menengah atas telah menggunakan Edubox,” kata Chief Operations Officer PT Pinisi Teknologi Edukasi Fathi Nashrullah, di Kota Bandung, Jumat.

Penggunaan Edubox oleh sekolah yang ada di Kota Bandung, dimulai pada tahun 2016. Itu fakta edubox kedua.

Wali Kota Bandung saat itu, yakni M Ridwan Kamil atau Emil secara resmi meluncurkan sistem smart city di ranah pendidikan yang diberi nama Edubox.

Sistem tersebut mulai diterapkan kepada 25 sekolah percontohan yang ada di Kota Bandung, Jawa Barat.

“Jadi waktu itu kita ada program dengan CSR Bank BJB untuk pilot project penggunaan Edubox di 25 sekolah, yang terdiri dari 17 SMP, empat SD dan empat SMA,” kata dia. Itu fakta edubox ketiga.

Dia mengatakan pada tahun 2017 pihaknya kembali diberikan kepercayaan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung terkait penerapan Edubox untuk seluruh SMP negeri yang ada di wilayah ini.

“Alhamdulillah, pada tahun 2017 kemarin kami diberikan kepercayaan kembali. Itu ada pengadaan langsung dari Disdik Kota Bandung untuk 57 SMP Negeri,” kata dia.

Fathi mengatakan ada sejumlah kelebihan yang bisa didapatkan oleh sekolah jika menggunakan Edubox salah satunya ialah efisiensi anggaran.

“Jadi ini data dari dinas pendidikan yang menyatakan berkat penggunaan Edubox, ada efisien anggaran pendidikan hingga belasan miliar. Kalau tidak salah sekitar Rp11 miliar,” kata dia.

Selain menghemat anggaran, lanjut dia, Edubox yang memiliki tagline “ujian online tanpa internet” ini memiliki manfaat dalam proses dan penilaian pembelajaraan di sekolah seperti guru mendapatkan kemudahan dalam menyampaikan materi ajar dan ulangan di kelas.

“Selain efisien dari aspek pengadaan kertas untuk penggandaan soal ujian, kelebihan lain dari Edubox ialah terhematnya waktu,” kata dia.

UNBK 2019 dan Polemik Curhatan Warganet di Media Sosial

Jadwal UNBK 2019 dan Strategi Sekolah Berikutnya

UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) telah berlangsung pada 25-28 Maret 2019 yang lalu. Sedangkan UNBK SMA (Sekolah Menengah Atas) / MA (Madrasah Aliyah) 2019 akan berlangsung pada 1, 2, 4 dan 8 April 2019. Untuk SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah), UNBK SMP/MTs 2019 dilaksanakan pada 22-25 April 2019. Apa yang bisa dijadikan strategi sekolah pasca UNBK tersebut selesai dilaksanakan?

Semua jadwal pelaksanaan UNBK tahun 2019 tersebut, berikut dengan UNBK susulan untuk SMA/MA dan SMP/MTs dapat dilihat pada laman milik Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) mengenai jadwal pelaksanaan UNBK

Sebagaimana kita tahu, proses penyelenggaraan UNBK tidak lagi memakan biaya yang besar dan waktu yang panjang. Karena tidak perlu lagi mencetak soal ke dalam lembaran kertas yang demikian banyaknya. Demikian pula dengan pemeriksaan ujian nasional (UN) yang dapat dilakukan secara digital.

Kedua upaya tersebut tentu menghemat waktu dan biaya yang sangat besar. Sehingga sejak awal persiapan UNBK, sampai dengan pengumuman hasil UNBK kepada para siswa, dapat berlangsung beberapa minggu saja. Bukan lagi beberapa bulan, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. 

Tidak lama setelah pelaksanaan UNBK 2019 berakhir, kira-kira apa yang sebaiknya dilakukan oleh sekolah-sekolah setelah “musim” UNBK telah berakhir? 

  • Kembali mengimplementasikan digitalisasi pembelajaran kepada para siswa. 
  • Mempersiapkan Guru TIK dalam pengajaran mata pelajaran Informatika 
  • Instalasi jaringan intranet dan internet dengan bantuan staf administrator IT sekolah 

Implementasi digitalisasi pembelajaran kepada para siswa. 

Dalam hal ini, tidak hanya siswa saja yang harus belajar. Namun sekolah perlu mengadakan lokakarya (workshop) dengan para guru sebagai pesertanya. Guna memahamkan cara-cara konversi materi pelajaran ke dalam bentuk konten digitalnya. 

Manfaat Teknologi Digital untuk Siswa di Sekolah

Mempersiapkan Guru TIK dalam pengajaran mata pelajaran Informatika.

Sebagaimana kita tahu, guru TIK tidak lagi sekedar tenaga pendidikan (tendik) namun juga akan terlibat aktif mengajar dalam mata pelajaran Informatika. Yakni, suatu mata pelajaran yang disempurnakan dari mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). 

Guru komputer, tidak perlu lagi mengajar secara satu arah kepada para siswa di dalam kelas. Namun, dapat meningkatkan perannya lagi, yakni sebagai fasilitator kelas yang bertugas memandu jalannya kelas informatika. Di mana, para siswa dapat berperan aktif melakukan kolaborasi dengan siswa lainnya dalam rangka mencari, mengumpulkan, menghimpun dan mendokumentasikan pengetahuan dan keterampilan informatika tersebut. 

Peran Guru TIK di Era Informasi 

Instalasi jaringan intranet dan internet dengan bantuan staf administrator IT sekolah.

Tentu saja, dalam hal ini, staf admin IT yang bersangkutan haruslah terlebih dahulu belajar dan memahami tipologi jaringan intranet dan internet. 

Tugas Staff Admin IT di Sekolah 

Dan Edubox bisa sangat membantu hal ini. Karena edubox adalah perangkat pintar (smart device) yang memiliki peladen (server) dan menyediakan koneksi jaringan komputer untuk bisa terhubung dengan perangkat-perangkat lain seperti komputer desktop, laptop, tablet hingga smartphone. 

UNBK 2019 dan Polemik Curhatan Warganet di Media Sosial

Related entries: 

  • car mengunduh soal ujian edubox
  • wujud edubox
  • edubox mini server bukalapak
  • cara memakai edubox
  • usbn smk eduboox
  • ip wifi edubox
  • cara menggunakan edubox via lan
  • aplikasi ujian online yang gak bisa klik apapu
  • edubox agar bisa digunakan siswa di atas 30

Untuk UNBK, Kami Ada

Era digital saat ini memang memudahkan kegiatan kita saat ini, termasuk di dunia pendidikan. Ujian sekolah yang sebelumnya berbasis kertas membuat sekolah menghabiskan dana jutaan untuk mencetak soal. Dari sisi guru, pembuatan dan koreksi soal yang manual juga cukup menyita waktu. Waktu pra-ujian, ujian, dan pasca ujian hingga pencetakan rapor, menjadi momen super sibuk bagi para guru. Dapat dibayangkan jika ujian dibuat online atau CBT (Computerized Based Test), berapa banyak uang dan waktu yang bisa dihemat. Server UNBK adalah server untuk pelaksanaan CBT pada Ujian Nasional (UN).

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah menyadari hal ini. Ujian Nasional di jenjang SMP, mulai tahun ini dibuat secara semi-online dengan adanya UNBK SMP. UNBK 2017 dikatakan semi-online karena koneksi internet hanya diperlukan pra-ujian untuk sinkronisasi soal dan pasca ujian untuk upload jawaban siswa. Pelaksanaan UNBK tidak memerlukan koneksi internet.

Sekolah pelaksana harus memiliki server, dimana server UNBK ini diperlukan untuk sinkronisasi soal dan data siswa dengan server pusat, serta upload jawaban seperti dijelaskan sebelumnya. Selain mempersiapkan sarana dan prasarana seperti komputer dan server, dalam UNBK 2017 sekolah pun perlu menyediakan SDM sebagai proktor, pengawas dan teknisi. Yang menarik, cara UNBK kali ini juga ada sistem menumpang, dalam artian sekolah yang tidak memiliki komputer yang memadai bisa melaksanakan di sekolah berbeda jenjang yang jaraknya paling dekat.

Spesifikasi teknis yang diwajibkan bagi komputer adalah berupa PC (bukan laptop) serta menggunakan jaringan internet dari kabel (bukan wireless atau wifi/hotspot). Menurut beberapa sumber, penggunaan laptop bisa dibolehkan. Hal ini kemudian memberikan ide bagi beberapa sekolah yang tidak mencukupi jumlah komputernya, untuk melaksanakan UNBK dengan memakai laptop dari siswa. Namun, laptop siswa tersebut harus dipinjam beberapa hari untuk disetting.

Dalam UNBK 2017 ini, terutama untuk UNBK SMP, terdapat beberapa kesulitan. Di daerah pelosok dan pedesaan dimana tidak terdapat jaringan internet yang baik, UNBK mustahil dilaksanakan. Selain itu, anggaran pengadaan komputer dan server tentunya menjadi beban. Bagi sekolah dengan jaringan donatur yang baik tentunya bukan masalah, namun kita tahu bahwa mayoritas sekolah memiliki jaringan donatur yang terbatas.

Selain itu, bagi sekolah yang sudah memiliki komputer dan server, belum tentu bebas masalah. Kita tahu bahwa sinkronisasi data siswa dan soal ujian dilakukan tidak lama sebelum pelaksanaan UNBK. Hal ini mengakibatkan try out UNBK tidak bisa dilakukan dengan kuantitas yang banyak. Sedangkan bagi siswa SMP tentunya harus membiasakan diri dengan soal dan pelaksanaan UNBK yang baru mereka temui. Apalagi bagi sekolah yang menumpang UNBK di sekolah lain.

Pinisi Edubox bisa hadir menjadi solusi untuk permasalahan ini. Pinisi Edubox dalam masa persiapan UNBK 2017 ini menyediakan try out UNBK bagi sekolah-sekolah di wilayah Bandung Raya. Bahkan bagi sekolah yang tidak memiliki komputer yang memadai, try out UNBK dari Pinisi Edubox bisa dijalankan melalui laptop, tablet, bahkan dengan smartphone siswa, tanpa perlu instalasi apapun di device tersebut.

Pinisi Edubox sebagai platform pembelajaran online, sudah berpengalaman dalam pengelolaan ujian dalam jaringan. Bahkan Pinisi Edubox mampu mengadakan Computerized Based Test tanpa menggunakan kuota internet, sehingga ujian mampu dilaksanakan bahkan di daerah pelosok yang tidak terjangkau jaringan internet sekalipun. Pertanyaanya, berapakah biaya try out UNBK yang dilakukan oleh Pinisi Edubox tersebut? Sekolah tidak perlu khawatir, demi kemajuan pendidikan di Indonesia, Pinisi Edubox tidak membebankan biaya apapun, alias gratis.

Cara Setting Jaringan UBK/UNBK

Peran Guru TIK di Era Informasi

mete description: peran Guru TIK / guru komputer di era informasi.

Di era peradaban informasi seperti sekarang ini, segalanya berkaitan dengan informasi. Informasi tersedia melimpah di mana saja. Mulai dari website hingga dalam medium social media yang semakin tak terhitung jenisnya (facebook, twitter, instagram, dst).

Aksesnya pun semakin bisa dilakukan dari mana pun, dan kapan pun. Sederhana saja. Karena tidak harus dari komputer meja (desktop) atau komputer jinjing (laptop). Sudah bisa dari handphone yang semakin ke sini semakin pintar saja (smartphone). Yang bisa digunakan dari toilet sampai kamar tidur.

Tools utamanya adalah komputer. dengan berbagai bentuknya. Ada personal computer berupa desktop atau laptop. Ada smartphone. Ada server (peladen), dan seterusnya.

Bahasanya adalah programming code. Semisal Java, bahasa C, dan seterusnya.

Logikanya adalah computational thinking (CT). Yaitu, metode menyelesaikan persoalan dengan menerapkan teknik ilmu komputer (informatika). Terutama untuk pendidikan dasar, logika ini jauh lebih penting daripada berbagai tools, aplikasi, maupun programming itu sendiri.

Ada empat teknik berpikir terkait dengan logika berpikir CT:

  • Dekomposisi (decomposition), yaitu memecah masalah/sistem rumit (complex problem/system) menjadi bagian-bagian lebih kecil yang lebih mudah dikelola.
  • Pengenalan pola (pattern recognition), mencari kesamaan di antara dan di dalam masalah/sistem.
  • Abstraksi (abstraction), fokus hanya pada informasi yang penting saja; mengabaikan detil-detil yang kurang/tidak relevan.
  • Algoritma (algoritm), mengembangkan solusi langkah demi langkah untuk mengatasi masalah, atau mengikuti/menaati aturan-aturan yang sudah ditetapkan untuk mengatasi masalah.

Metode ujian HOTS (higher-order thinking skills) bagus karena mengasah nalar siswa ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagaimana disebutkan dalam dalam 12 Tips Sukses Menghadapi UNBK 2019, soal-soal HOTS membutuhkan analisis lebih mendalam (deeper analysis), pemikiran kritis (critical thinking), pemecahan masalah (problem solving) dan kreativitas (creativity). Tenang saja, tidak semua soal akan bertipe HOTS, kok. Hanya sekitar 15%-20% saja.

Nah, terkait dengan peran guru komputer, banyak yang mempertanyakan ketiadaan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di kurikulum 2013. Selain merugikan siswa, dampak dari penghapusan tersebut juga mengubah fungsi dari para guru TIK dari guru menjadi tenaga kependidikan. 

PERAN GURU TIK (dan KPPI)

Pada pasal 3 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 tahun 2014, disebutkan bahwa Guru TIK dan Guru KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) difungsikan sebagai “Guru TIK”, dengan peran sebagai berikut :

1. membimbing peserta didik pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK atau yang sederajat untuk mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) pendidikan dasar dan menengah;

2. memfasilitasi sesama guru pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK atau yang sederajat dalam menggunakan TIK untuk persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah; dan

3. memfasilitasi tenaga kependidikan SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK atau yang sederajat untuk mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis TIK.

Dengan demikian, Guru TIK (TIK & KKPI) memiliki kewajiban untuk membimbing peserta didik dalam mencari, mengolah, menyimpan, menyajikan, serta menyebarkan data dan informasi dalam berbagai cara untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran. Disamping guru TIK juga selanjutnya akan memfasilitasi antar sesama guru dan tenaga kependidikan (PTK) TIK dalam mengembangkan sistem manajemen sekolah berbasis teknologi informasi dan komputer.

Namun demikian, guru komputer dapat turut berperan serta dalam memandu para siswa mengenai etika dalam ber-internet ria. Di era serba terkoneksi ini, perlu diingat bahwa apa yang kita ucapkan dan sampaikan sudah dalam bentuk digital yang mudah sekali tersebar kemana-mana. Hingga muncul istilah “jejak digital”. Dalam bentuk positif maupun negatif, konten yang kita buat bahkan bisa diterima oleh seseorang yang berada di ujung dunia sana melalui perantaraan internet.

Demikian pula di social media. Para generasi muda perlu kita. Bagaimana cara membuat post yang baik, memberi komentar yang santun, dan sebagainya. Semua sopan santun digital ini diistilahkan dengan “Netiquette”. Mencegah cyberbullying dengan memberitahukan betapa buruknya efek psikologis yang dirasakan oleh korban cybberbullying. Yang hendaknya, para siswa kita ingat untuk berlaku sopan santun di dunia maya selayaknya di dunia nyata.

Implementasi kembali mata pelajaran TIK menjadi Informatika

Mapel Informatika tidak hanya mempelajari beragam perangkat lunak komputer, tetapi juga memecahkan masalah dan membuat aplikasi dengan berpikir kritis.

“Siswa dituntut berpikir komputasional dengan mempelajari beragam disiplin ilmu. Baik informatika atau noninformatika. Produk TIK untuk menunjang pembelajaran dan tugas sehari-hari itu masih perlu dijalankan sebagai bagian dari program literasi digital yang sudah dijalankan. Mapel Informatika sesuai dengan kebutuhan masa depan anak bangsa.” kata Awalludin Tjalla, Kepala Pusat Kurikulum Perbukuan Kemendikbud di Jakarta, Senin, 3 September 2018.

Ia menuturkan, mapel Informatika mencakup lima materi yang bakal menunjang kompetensi siswa di era revolusi industri 4.0. Yakni, 

  • Teknik komputer,
  • Jaringan komputer/internet,
  • Analisis data,
  • Dampak sosial informatika, dan
  • Programming.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

Di era serba informasi ini, sekolah sebagai institusi pendidikan pun tidak mau ketinggalan. Dua praktik utama, yaitu pembelajaran dan evaluasi (ujian) turut mengalami digitalisasi. Salah satu wujudnya adalah computer-based testing (CBT) yang diimplementasikan dalam wujud UNBK.

Implementasi UNBK tersebut ke seluruh wilayah Indonesia relatif tidak mudah. Karena tiap-tiap sekolah ditargetkan memiliki infrastruktur yang memadai. Baik komputer maupun jejaring antar komputer. Sebagai catatan, untuk pelaksanaan UNBK saat ini saja, sebagian sekolah masih harus menumpang ke sekolah lain. 

Tantangan pelaksanaan UNBK ini tidak berhenti sampai di sini saja. Digitalisasi konten pembelajaran, cara belajar siswa secara digital, sampai dengan adaptasi para guru mata pelajaran terhadap metode-metode digital sangat membutuhkan peran serta dari guru TIK.

Kesimpulan

Guru TIK memiliki tiga “pelanggan” yang perlu dikelola dengan baik, yaitu:

  • Peserta didik, dalam wujud mapel Informatika yang mempelajari tentang teknik komputer, jaringan komputer/internet, analisis data, dampak sosial informatika (netiquette, cyberbullying, dsb), dan programming,
  • Guru mata pelajaran yang lain, dalam hal digitalisasi proses persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran,
  • Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah terkait, dalam hal mengembangkan proses dan sistem manajemen sekolah yang berbasis digital

Untuk memudahkan proses digitalisasi proses pembelajaran dan penilaian, para guru komputer dapat menggunakan Edubox, suatu perangkat dengan aplikasi digital di dalamnya. Edubox terdiri dari Edubox Mini Server dan Edubox Smart Router.

Referensi:

Related Post(s):

12 Tips Sukses Menghadapi UNBK 2019

Meta description: Tips Sukses UNBK untuk para siswa.

Di UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) tahun 2019 ini, tipe soalnya kebanyakan adalah HOTS. Apa itu? Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang artinya kira-kira adalah “membutuhkan daya nalar tinggi”. Maksudnya adalah soal-soal yang membutuhkan analisis lebih mendalam (deeper analysis), pemikiran kritis (critical thinking), pemecahan masalah (problem solving) dan kreativitas (creativity). Tenang saja, tidak semua soal akan bertipe HOTS, kok. Hanya sekitar 15%-20% saja.

Apa saja tips sukses yang banyak itu dalam rangka menghadapai UNBK 2019? Yuk kita bahas sedikit.

  1. Belajar tidak untuk sekedar mengerjakan soal saja. Atau belajar menghapal jawaban saja. Melainkan belajar untuk memahami suatu materi secara mendalam. Memahami makna dari suatu definisi, dari mana datangnya sebuah rumus, hingga mengaitkan suatu bab dengan bab lainnya.
  2. Belajar sesuai dengan kisi-kisi UNBK 2019. Supaya enggak bingung dan bisa belajar lebih terarah, BNSP (Badan Standard Nasional Pendidikan) telah menyusun kisi-kisi UNBK 2019. Dengan memahami kisi-kisi, kita jadi tahu Standard Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai oleh siswa.
  3. Buat belajar menjadi lebih menyenangkan. Ada yang lebih senang belajar tatkala bersama-sama dengan teman. Ada juga yang lebih senang belajar sendirian. Temukan cara belajar kamu yang lebih menyenangkan. Sekarang ini belajar tidak hanya membaca buku teks saja. Tetapi konten pembelajaran sudah tersedia dalam bentuk video animasi maupun infografis. Konten-konten pembelajaran seperti ini bisa disimpan di perangkat/gawai seperti Edubox.
  4. Ketika try out / uji coba / simulasi, kelompokkan soal berdasar tingkat kesulitan. Dengan familiar mengklasifikasi soal berdasar tingkat kesulitannya, maka kamu akan semakin mahir jelang UNBK 2019. Beri nama kelompok soal: mudah, sedang, dan sulit. Mengelola waktu (time management) ketika mengerjakan soal adalah mulai dari soal-soal yang mudah dahulu, kemudian sedang, terakhir adalah yang sulit. Semakin sulit suatu soal, maka kita harus memikirkan ulang jawaban yang akan kita berikan. Barangkali kita membutuhkan kreatifitas dalam mencari jalan alternatif untuk mengerjakan soal tersebut. Sulitnya soal juga menentukan mana yang benar-benar tidak bisa kita jawab.
  5. Siap dengan kemungkinan buruk yang terjadi ketika UNBK. Mulai dari komputer ujian yang mengalami masalah, jaringan komputer yang gagal terkoneksi, dan lain sebagainya. Sebagai bagian dari persiapan UNBK dan pencegahan terhambatnya pelaksanaan UNBK, minta kepada pihak sekolah untuk melakukan pengecekan kualitas jaringan komputer terlebih dahulu. Lebih lanjut, minta sekolah untuk dapat mengadakan simulasi UNBK dengan seluruh siswa peserta mengikuti simulasi tersebut. Tentu sekolah sudah memahami spesifikasi (spek) server UNBK dan spek komputer UNBK.
  6. Cicil materi pelajaran yang diajarkan di kelas 1 dan 2, sejak awal. Dengan menyediakan waktu secara rutin untuk mempelajari materi pelajaran di kelas sebelumnya, maka intisari dari materi tersebut akan mengendap di kepala kamu. Atur waktu belajar kamu senyaman mungkin. Bukan hanya waktu yang harus diatur, tetapi juga konsentrasi kamu dalam belajar dan mengerjakan latihan soal atau simulasi. Lebih baik istirahat 10 menit setiap 1 jam belajar, daripada memaksakan belajar 4 jam sekaligus.
  7. Mengerjakan soal-soal UNBK tahun sebelumnya. Atau mengerjakan simulasi UNBK. Tentu soal UNBK tahun 2019 tidak sepenuhnya baru. Pasti ada bagian yang diulang dari soal tahun 2018 atau sudah tersedia di simulasi UNBK 2019.
  8. Mulai berteman dengan teknologi pembelajaran. Paling dekat adalah ujian berbasis komputer atau ujian berbasis android.
  9. Membangun rasa percaya diri. Mulai dengan percaya diri dan tidak stress tatkala mengerjakan soal, termasuk soal-soal simulasi sekalipun. Sembari membandingkan hasil simulasi dengan yang sudah dipelajari, maka akan meningkatkan rasa percaya terhadap diri sendiri.
  10. Fokus tidak hanya pada materi pelajaran. Tetapi juga hal-hal administratif seperti kartu identitas ujian, pengisian nama di “lembar” ujian, dan seterusnya.
  11. Semua yang terjadi di ujian nasional, terjadi atas izin Tuhan. Oleh sebab itu, perbanyak berdoa dan meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
  12. Mohon restu juga kepada orang tua. Restu orang tua adalah bentuk “dukungan dan persetujuan” dari Tuhan.

Sebagai penutup, kami di Edubox memberi semangat kepada kamu yang akan mengikuti ujian nasional (UN) 2019. Selamat belajar lebih keras, mengoptimalkan waktu yang tersisa. Agar mendapatkan hasil yang diinginkan serta tercapai cita-cita kamu.

Related post(s):

Ujian Online tapi Offline, itu Maksudnya Bagaimana ya?

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer-Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper-Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Dalam artikel ini kita akan bahas aplikasi ujian berbasis komputer offline.

Penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pertama diselenggarakan pada tahun 2014 secara online yang diikuti secara terbatas di SMP Indonesia Singapura serta SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil dari penyelenggaraan UNBK  tersebut cukup dianggap cukup menggembirakan sehingga dapat untuk mendorong meningkatkan literasi siswa terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

jumlah sekolah peserta UNBK (ujian nasional berbasis komputer) tahun 2015-2017

Melihat hasil yang cukup menggembirakan di tahun 2014 selanjutnya pada tahun 2015 secara bertahap dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari  379 SMK, 135 SMA/MA, dan 42 SMP/MTs di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Selanjutnya pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK. Jumlah sekolah yang mengikuti UNBK tahun 2017 melonjak tajam menjadi 30.577 sekolah yang terdiri dari 11.096 SMP/MTs, 9.652 SMA/MA dan 9.829 SMK.

Meningkatnya jumlah sekolah UNBK pada tahun 2017 ini seiring dengan kebijakan resources sharing yang dikeluarkan oleh Kemendikbud yaitu memperkenankan sekolah yang sarana komputernya masih terbatas melaksanakan UNBK di sekolah lain yang sarana komputernya sudah memadai.

Penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah),  kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload). Sumber : https://ubk.kemdikbud.go.id

Demikianlah yang kami sebut dengan ujian online tetapi offline. Alias ujian berbasis komputer secara offline.

Hubungan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan UNBK

Setelah UNBK selesai,  komputer/ laptop maupun server bisa digunakan untuk kegiatan ujian harian (UH), ujian tengah semester (UTS) maupun Ujian akhir semester (UAS) yang dapat dilakukan secara offline maupun online. Apalagi sekarang banyak sekali aplikasi berbasis web yang sifatnya open source (free) dan gratis yang bisa didownload di internet dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Jadi laboratorium UNBK yang sudah tersedia tersebut, tidak hanya digunakan setahun sekali pada masa Ujian Nasional saja, tetapi juga dapat digunakan untuk ujian-ujian rutin di sekolah.

Disebut offline, karena dalam ujian ini hanya memerlukan jaringan LAN dan Server unbk saja, tidak memerlukan koneksi internet maka disebut offline.

Ujian berbasis komputer secara offline, tentu saja memiliki tata cara tersendiri. Berikut adalah tata cara ujian berbasis komputer yang dapat kita sarankan kepada para siswa.

Tata cara ujian berbasis komputer

  • Jangan khawatir berlebihan. Malah akan berakibat buruk karena mendatangkan stress/tekanan. Kalau sudah begitu, malah sulit fokus mengerjakan ujian sehingga semua yang dipelajari malah terlupa.
  • Supaya tidak khawatir berkepanjangan, kita perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mulai dari latihan mengerjakan soal ujian berbasis komputer, sampai dengan mempelajari kisi-kisi ujian itu sendiri.
  • Ketika ujian, fokus pada pengerjaan soal ujian itu sendiri. Teliti pada maksud dari pertanyaan dan jawaban yang harus kita pilih atau berikan. Jangan sampai lupa juga dengan pengisian data pribadi. Harus lengkap tidak boleh ada yang tertinggal.
  • Tidak hanya simulasi mengerjakan soal secara digital. Belajar secara digital juga penting. Aplikasi Edubox memberikan keduanya. Belajar dan mengerjakan soal dari perangkat pribadi (laptop/smartphone) dengan bantuan perangkat pintar seperti Edubox yang berperan sebagai peladen (server) berukuran mini.
  • Pelajari juga cara menggunakan komputer saat UNBK. Bersama teman-teman dekatmu, ajak mereka untuk menggunakan komputer dengan browser atau aplikasi simulasi UNBK. Bila belum ada yang mengetahui minta guru wali kelas atau lewat guru komputer untuk mengadakan simulasi UNBK di sekolah.

Perangkat Edubox terdiri dari Edubox Smart Router dan Edubox Mini Server. Keduanya memiliki aplikasi Edubox di dalamnya. Berikut ini adalah perbandingan di antara keduanya.

Perbandingan Edubox Smart Router dengan Edubox Mini Server

Smart Router

  • Device ini akan berfungsi maksimal apabila disambungkan dengan WiFI (wireless) di kelas
  • Menggunakan cloud computing, sehingga bisa diintegrasikan untuk satu sekolah.
  • Portable di kelas biasa (non-lab komputer).

Mini Server

  • Device ini harus digabungkan dengan Router WiFI
  • Device ini dapat mengoptimalkan laboratorium UNBK (yang sudah menggunakan LAN) untuk dapat digunakan sebagai KBM.

Related Post(s):

Tips Lancar Ujian Online: Cek Jaringan Dulu, Pak !

Setiap orang yang terhubung ke internet pasti selalu menginginkan koneksi harus lancar. Apalagi untuk agenda sepenting ujian. Koneksi tidak boleh down sedikit pun. Kalau untuk kegiatan biasa seperti sosial media, browsing atau chatting, koneksi putus sekali-sekali sih tidak jadi masalah. Itulah yang selalu menjadi ketakutan dan kekhawatiran mengadakan ujian online/ ujian berbasis komputer apalagi di sekolah dengan peserta yang sangat banyak. Kalau koneksi jelek ujiannya gimana? Chaos pastinya, ga percaya? boleh ikut dengan saya…:D

situs speedtest.net untuk mengukur kecepatan unggah (upload) dan unduh (download) dari koneksi internet.

Kalau bicara deg-degan sewaktu ujian mau dimulai, saya juga sering mengalami. Tapi sebentar, saya sedang tidak sekolah lagi kok. Jadi guru, saya dan teman-teman cuma coba bantu sekolah-sekolah untuk mengadakan ujian online/ujian berbasis komputer. Tapi karena teknologinya kami yang menyediakan maka perasaan lebih deg-degan dari anak-anak yang mau ujian… ini serius lho..

Tahun pertama diterapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) alias UN daring (Ujian Nasional online), sering masalah utama yang terjadi adalah ketika server mati dan tidak bisa diakses, sedangkan masalah jaringan sudah diatasi sebelumnya dan pilihan dari yang membuat sistem adalah dengan penerapan jaringan kabel (LAN) dengan persyaratan menggunakan desktop yang terhubung ke jaringan tersebut. Nah ini pasti jadi investasi besar buat sekolah untuk menyediakan desktop dan jaringan kabel untuk seluruh siswa, dan pastinya ribet urusan perkabelan ini.

Bandingkan dengan Ujian Daring (ujian online/ujian berbasis komputer) yang memanfaatkan jaringan nirkabel (wireless/wi-fi). Dari sisi investasi perangkat lebih efisien, apalagi siswa sebagian besar sekarang sudah punya perangkat yang bisa terhubung ke Wi-Fi. Tapi jangan coba-coba kalau susah masuk ke halaman ujian, teriakan yang sering terjadi adalah “Wi-Fi butut”, “koneksi jelek”. Kedua teriakan ini pada dasarnya dari sisi user itu menuju satu hal yang sama yaitu kualitas internet jelek. Tapi benarkah ini hanya masalah koneksi internet dan bandwith yang tersedia? Bandwith tentu saja penting, tapi ada yang jarang diperhatikan yaitu kualitas jaringan yang dipakai.

Bicara kualitas jaringan nirkabel (wireless/Wi-Fi) ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Pemilihan wireless access point dan router yang sesuai. Ini sangat penting karena sewaktu ujian, kebiasaan pengguna adalah masuk ke aplikasi secara bersamaan, oleh karena itu harus dipilih perangkat yang bisa menangani sejumlah user yang ada. Dari pengalaman, untuk pengguna setiap kelas itu lebih dari 40 siswa kami selalu menggunakan Ubiquiti Unifi Access Point dan untuk untuk ruouter kami memilih Mikrotik RB 951 Ui 2HnD.
  • Topologi jaringan. Gunakan topologi jaringan star, dari Wireless Access Point langsung ke port router, memang dari sisi penggunaan kabel lebih banyak tapi dari sisi konektifitas ini akan lebih efektif, kecuali kalau backbone jaringannya sudah fiber optic.
  • Settingan jaringan, nah ini cukup penting juga ternyata, terutama settingan router, karena dari pengalaman penerapan di beberapa sekolah, kadang setingan yang ga efisien akan membuat prosesor router bekerja lebih keras sekaligus menghabiskan resource.
  • Gunakan aplikasi yang disimpan di server lokal, sehingga tidak membutuhan akses internet untuk pelaksaan ujian. Kalau tidak mau ribet bisa menggunakan Pinisi Edubox.

Ingin coba menerapkan ujian online / ujian berbasis komputer di sekolah anda, dan butuh desain topologi jaringan dan settingan router mikrotik yang sudah efisien silakan isi komentar di bawah.

Related Post(s):

WiFi vs LAN untuk Pelaksanaan Ujian Dalam Jaringan

Sehari kemaren cukup melelahkan, setelah nyampe kantor sekitar jam 9.00 dapat info dari grup Whatsapp support Pinisi Edubox bahwa ada masalah di jaringan yang digunakan untuk ujian di SMKN2. Dan parahnya masalah ini baru ditemukan sewaktu ujian. Memang dari SOP yang dibuat setiap sekolah yang sudah menggunakan sistem ujian Pinisi Edubox harus melakukan simulasi ujian real untuk melihat kemampuan jarigan yang sudah dipasang, tapi ini ternyata ga maksimal dilakukan sehingga kita tidak tahu apakah jaringan akan sanggup atau tidak. Selanjutnya, kita bahas ujian dalam jaringan.

Sejak setahun yang lalu saya dan beberapa anak-anak Saklik menginisiasi produk baru (startup) yang dinamakan Pinisi Edubox (sebelumnya Pinisi Exambox). Produk ini memberikan solusi terhadap permasalah sekolah-sekolah yang ingin menerapkan konsep paperless (pengurangan penggunaan kertas) bahkan bebas kertas dalam setiap kali ujian tetapi terkendala dengan koneksi jaringan internet. Bayangkan saja setiap kali ujian ada ratusan sampai ribuan siswa bersamaan ujian jika dipaksakan ke internet sudah dipastikan ujian tersebut akan gagal dan chaos. Nah si Pinisi Edubox ini dirancang sebagai jaringan lokal dengan konsep tanpa kabel (wireless). Peserta ujian cukup konek ke Wi-Fi dan mengakses alamat IP lokal tertentu untuk melaksanakan ujian.

Ternyata setelah berjalan setahun, penggunaan Wi-Fi sebagai akses untuk ujian lebih agak susah dibanding dengan menggunakan jaringan kabel (LAN). Pantas saja Kemdikbud melakukan UNBK dengan konsep LAN. Tapi berdasarkan pengalaman penerapan di beberapa sekolah di Bandung asal perancangan dan pengembangan jaringan Wi-Fi nya benar, maka hasil yang didapatkan akan lebih efektif dan efisien dibanding dengan LAN.

Dengan menyediakan Wi-Fi yang mumpuni untuk pengadaan ujian ini sekolah tidak perlu lagi menyedian lab komputer, anak-anak bisa menggunakan laptop atau smartphone. Tapi rata-rata selama ini memang Wi-Fi yang terpasang di sekolah rata-rata tidak dirancang untuk penggunaan dalam jumlah besar.

Berani mencoba di sekolahnya? atau pernah mencoba yang didapat stress? Kalau saya sudah sering banget stress kalau tiba-tiba jaringan susah diakses seperti yang kemaren dialami di SMKN2 Bandung, walaupun akhirnya bisa diatasi dan ujian kembali berlangsung dengan normal.

Dari pengalaman selama ini ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk penggunaan Wi-Fi untuk akses ujian dalam jaringan :

  1. Pemilihan Wi-Fi access point, gunakan produk yang bisa menjamin kemampuan menghandle lebih dari 50 user untuk satu access point. Saat ini yang direkomendasikan adalah Unifi AP Long Range (Ubiquity).
  2. Mikrotik yang berfungsi sebagai router. Disesuaikan dengan banyaknya user. Untuk user lebih dari 100 sampai 200 orang disarankan menggunakan Mikrotik RB 951 2Hnd. Kenapa mikrotik, karena menurut saya ini cukup familiar untuk kalangan pendidikan.
  3. Server dan aplikasi, nah ini juga disesuaikan dengan jumlah user yang bakal mengikuti ujian. Aplikasi pun bisa menggunakan software open source seperti Moodle (PHP based), edX (python based), Sakai (java based). Atau bisa juga menggunakan produk dari Pinisi Edubox berupa server dan aplikasi yang terintegrasi (berbasis Raspberry Pi 2), dengan kemampuan menangani 200 user bersamaan.
Paket Pinisi Smart Edubox

4. Yang paling penting dari itu semua adalah, sebelum ujian dilaksanakan harus dilakukan simulasi real. Misalnya ada 200 orang yang mau ikut ujian, maka 200 orang itu harus mencoba semua, sehingga kita tahu kekurangan dari sistem yang disiapkan.

Selamat mencoba!

Related Post(s):